cynthia nggak pernah ngerasa ada yang salah dari hubungannya dengan greesel. semuanya terasa biasa aja, bahkan cenderung nyaman. greesel selalu ada di waktu yang tepat, selalu tau harus ngelakuin apa tanpa perlu banyak ditanya. buat cynthia yang nggak suka ribet, itu justru bikin semuanya terasa lebih mudah.
"jangan pergi sendiri," kata greesel suatu sore dengan nada datar, hampir tanpa emosi.
cynthia cuma ngangguk pelan, seperti biasa. "iya."
dia nggak pernah kepikiran buat nanya kenapa. nggak ada alasan juga untuk nolak, karena pada akhirnya, dia memang lebih milih bareng greesel dibanding sendirian atau sama orang lain.
hari-hari berlalu, dan tanpa cynthia sadari, semuanya mulai berubah. bukan perubahan yang besar atau tiba-tiba, cuma hal-hal kecil yang pelan-pelan bergeser. dia jadi lebih jarang ketemu teman-temannya, lebih sering menghabiskan waktu di tempat yang sama, dengan orang yang sama.
anehnya, itu nggak terasa seperti kehilangan.
malam itu, cynthia ketiduran di sofa, tubuh kecilnya meringkuk tanpa sadar. lampu masih menyala, suasana tenang, dan di sebelahnya, greesel duduk diam, memperhatikan cukup lama.
"capek ya..." bisiknya pelan, hampir seperti ngomong ke dirinya sendiri.
tangannya terangkat, merapikan rambut cynthia dengan hati-hati, seolah-olah menyentuh sesuatu yang rapuh. nggak ada jawaban, tentu saja. cynthia tetap tertidur, tenang, tanpa tahu apa-apa.
greesel tersenyum tipis.
"tenang aja," lanjutnya pelan.
hening sebentar, cukup lama sampai kata-kata berikutnya terdengar lebih jelas.
"kamu nggak perlu mikir apa-apa."
tatapannya tetap sama, tenang, pasti.
"cukup di sini... sama aku."
#gxg
#18+
#grecyn!
All Rights Reserved