GALODO - Banjir Sumatra
"Mas Tony, congrats ya untuk tugas barunya. Boleh tanya nggak, kenapa terima tugas itu. Terima aja? Atau karena....viral based? Atau sejak kapan mas Tony masuk circle?"
"Presiden yang minta. Saya tidak punya ruang untuk menolak."
Tanpa basa-basi, Mayang membuka laptopnya. "Saya sudah siapkan datanya, Mas Tony. Tentang penebangan hutan di Bukit Barisan, soal izin konsesi yang cacat, dan perusahaan cangkang yang dipakai oleh forest baron-"
Tony menghela napas, kelepasan. "Ya, I know... ini soal deforestasi kan?"
Seketika, suhu udara berubah. Mayang menyala menatap tajam, membuat Tony menyesal.
Mayang tidak marah. Ia menoleh, melihat kue manis di piring Tony. Dengan gerakan elegan dan terukur-seperti aktris film papan atas dalam adegan pesta pernikahan-Mayang mengambil piring kue itu, memotong sepotong, lalu mengarahkan garpu ke mulut Tony.
Tony terpana. Tapi karena ia tidak suka drama, ia memutuskan untuk mengikuti alur aneh ini. Ia membuka mulut, menerima suapan kue dari Mayang. Rasa manis segera memenuhi rongga mulutnya.
"Suka?" tanya Mayang, nadanya lembut, tapi matanya dingin.
Tony mengunyah, berusaha tersenyum sopan. "Eh, suka... manis."
"Manis?" Mayang meletakkan piring. "Mas ada diabetes kah?"
"Nggak lah. Kenapa?"
Mayang menggeser laptopnya, namun tidak membuka data. Matanya menatap lurus ke mata Tony.
"Apa yang akan kalian lakukan adalah mengobati koreng kecil dengan obat mahal, di saat penyakit kronis diabetesnya dibiarkan. Kejahatan para forest baron yang melakukan deforestasi di hulu Anai-itulah diabetesnya, itulah penyakit kronis yang akan merusak keseluruh badan sebelum membunuh. Dan jika Mas Tony hanya datang untuk memulihkan koreng, Mas Tony bukan arsitek resilien. Mas Tony hanya alat cuci tangan."
Tony terdiam, menatap mata Mayang. Mulutnya masih terasa manis. Ia menyadari: Wanita yang duduk di depannya-bukan hanya aktivis yang keras kepala. Dia adalah perpaduan integritas dan kekuatan yang ia butuhkan.
Selamat membaca!