We Were Never On Time

We Were Never On Time

  • WpView
    Reads 67
  • WpVote
    Votes 18
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Mar 26, 2026
Marvin Mahendra selalu dikenal sebagai murid sempurna, tenang, cerdas, dan selalu berada di kelas unggulan. Berbeda jauh dengan Yura Azura, gadis pintar yang justru lebih sering dipanggil ke ruang guru karena kenakalannya saat itu. Meski begitu, diam-diam mereka saling menyukai sejak kecil. Bahkan, Marvin pernah mengungkapkan perasaannya saat kelas 3 SD perasaan yang tak pernah benar-benar dijawab oleh Yura. Waktu memisahkan mereka setelah kelulusan. Tanpa penjelasan, Marvin memilih memutuskan semua kontak, meninggalkan Yura dengan perasaan yang tak pernah sempat ia ungkapkan. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di bangku kuliah, berbeda jurusan, berbeda dunia. Namun kali ini, yang tersisa bukan hanya rasa yang belum selesai, tapi juga luka, tanda tanya, dan kesempatan kedua yang mungkin datang terlalu terlambat.
All Rights Reserved
#69
anyujin
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nanti Kita Cerita Tentang Kel.7 (KKN) | END
  • Wifey? (END)
  • Cupiditas Vitae
  • The King & The Doctor
  • NIGHT NOISES || Romance Horror [END]
  • PREGNANT (DewTee)
  • Given || Ju Jihoon
  • Simpanan No, Istri Sah Yes. (ongoing)
  • I Want to Live

Bagi Mahendra Raditya, mahasiswa perfeksionis dan kaku, KKN di Desa Sindangasih hanyalah kewajiban akademis yang harus diselesaikan secepat mungkin. Namun, rencana hidupnya yang tertata rapi seketika berantakan karena kehadiran Haikal Dirgantara-seksi Humas yang urakan, pecicilan, namun luar biasa mudah memikat hati seluruh warga desa. Bersama lima anggota lainnya yang memiliki karakter saling bertabrakan-Rendra si sekretaris julid, Cakra si anak sultan, Jevan si cowok kulkas, Nana yang kelewat soft, dan Jidan si maba raksasa-posko Kelompok 7 tak pernah sepi dari adu gengsi, kepanikan proker, hingga tawa di tengah malam. Di tengah tekanan mempersiapkan acara akbar 17 Agustus bersama warga desa, dinding rasionalitas Mahen perlahan runtuh. Interaksinya dengan Haikal memunculkan debaran asing dan rasa posesif yang mengacaukan logikanya. Ditambah dengan benih-benih cinta yang juga mekar di antara anggota posko lainnya, Kelompok 7 belajar bahwa KKN bukan hanya soal membangun desa, tapi juga tentang meruntuhkan ego dan berani jujur pada perasaan sendiri. Mampukah Mahen menyingkirkan gengsinya sebelum waktu pengabdian mereka habis?

More details
WpActionLinkContent Guidelines