Aturan Tak Tertulis yang Kamu Langgar
Ada banyak aturan tak tertulis di antara kita selama tiga tahun ini.
1. Kita selalu ada untuk satu sama lain, 24/7.
2. Kita saling tahu setiap inci luka dan rahasia yang paling dalam.
3. Kita bertingkah seperti sepasang kekasih, meski status tak pernah terucap.
Dan aturan yang paling penting: Jangan pernah pergi tanpa pamit.
"Katanya, menyembuhkan luka orang lain adalah bentuk kasih sayang paling murni. Tapi aku lupa satu hal: saat lukanya menutup, tempatku di sisinya mungkin tak lagi dibutuhkan."
Tiga tahun. Bukan waktu yang sebentar untuk membangun sebuah dunia yang isinya cuma aku dan kamu. Aku ada di sana saat duniamu runtuh karena masa lalumu. Aku yang memungut kepingan hatimu, menjahit lukamu pelan-pelan, sampai kamu bisa berdiri tegak lagi. Kita sedekat nadi, seakrab detik, we were like a puzzle that finally fit together. Orang bilang kita pacaran, aku bilang kita adalah 'rumah'.
But then, the healing process ended.
Tanpa aba-aba, semua akses diputus. No calls, no chats, even my existence on your social media was erased. Kamu menjauh sejauh-jauhnya, membuat kita kembali menjadi dua orang asing yang seolah tak pernah berbagi tawa selama seribu hari lebih. You healed, but you left me with a new wound.
Aku selalu percaya kalau cinta itu manis, semanis janji dan perhatian yang kamu beri dulu. Namun kini aku sadar, cinta memang semanis itu, dan harapan selalu menjadi pelengkapnya tapi kerasnya dunia-dengan segala ego, rahasia, dan keputusannya-membuat akhir cerita kita terasa begitu pahit.
Because in the end, we're just two strangers with a library of memories. You're healed now, and I'm just a broken rule in your life.
All Rights Reserved