Di sebuah rumah yang tampak lengkap dari luar, tinggal seorang anak perempuan yang terbiasa hidup di antara suara-suara yang saling bertabrakan. Ia memiliki segalanya-ayah, ibu, dan seorang kakak laki-laki-namun tidak pernah benar-benar merasakan hangatnya sebuah keluarga.
Setiap hari, rumah itu dipenuhi nada tinggi, pintu yang tertutup keras, dan kalimat-kalimat yang menggantung tanpa penyelesaian. Kakaknya memilih menjauh, ayahnya tenggelam dalam amarah yang tak pernah selesai, sementara ibunya perlahan hilang dalam diam yang panjang. Di tengah semua itu, ia hanya berdiri-menyaksikan, mendengar, dan belajar untuk tidak bersuara.
Ia mulai percaya bahwa suara hanya akan menambah luka. Maka, ia memilih diam. Menyimpan tangis, menelan kata-kata, dan mengubur harapan kecil yang dulu pernah ia miliki tentang keluarga yang utuh.
Hingga suatu hari, semua suara itu benar-benar berakhir-bukan karena semuanya membaik, tetapi karena tak ada lagi yang tersisa untuk diucapkan. Dan di situlah ia sadar, bahwa yang paling menyakitkan bukanlah pertengkaran... melainkan ketika segalanya berubah menjadi diam.
Cerita ini murni pemikiran saya sendiri, Dilarang copy tanpa izin.
#karyasendiri #authorindonesia #stopplagiat #hargaiPenulis
#Keluarga # lukabatin #Kehidupan
All Rights Reserved