We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Forgotten
  • WpView
    Reads 5
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadMatureComplete Sun, Jul 26, 2026
WpInfo
Fiction
Social Themes
Growth and Self-Discovery
Illness
Religion and Spirituality
Sepi. Hanya itu saja. Tak ada yang peduli. Aku hidup sendirian terlalu lama sampai kesepian terasa seperti ruangan yang ikut bernapas di dalam kepala. Setiap hari berjalan dengan cara yang nyaris sama: bekerja, pulang, menulis, merawat kucing, lalu kembali tenggelam ke dalam pikiranku sendiri yang tak pernah benar-benar diam. Di luar sana, orang-orang tampak mudah menemukan seseorang untuk pulang bersama. Aku hanya menatap mereka dari kejauhan, sambil bertanya-tanya mengapa hidup begitu tega membiarkanku terus berdiri di sisi yang sama, tanpa tangan yang menggenggam, tanpa suara yang memanggil namaku dengan hangat. Namun yang paling sulit bukanlah sunyi itu sendiri. Yang paling sulit adalah melawan diriku sendiri. Melawan suara-suara yang terus menyuruhku menyerah, melawan pikiran yang pelan-pelan meyakinkanku bahwa aku memang ditakdirkan untuk sendiri. Di tengah semua itu, aku tetap memegang satu tujuan yang terasa sederhana sekaligus mustahil: menemukan seseorang yang bisa menjadi pasanganku, cintaku, dan sekaligus jawaban atas pertanyaan yang sejak lama menggerogoti dadaku. Kenapa aku selalu sendiri, dan sampai kapan hidup akan terus menganggapku sebagai pengecualian?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Auto Save!
  • Lysander Lowell De Villiers
  • After the Fall
  • PROYEK SATU TAHUN
  • Target Si Supir [END]
  • "Liburan" Bonus Suami
  • Trouble Maker[END]
  • ELION (bl)
  • The Pinky Boy
  • Tresna Kang Tinatih Ing Alas Jati

​"Bang, sumpah gue capek direvisi terus. Pengen resign terus nikah sama sugar daddy aja rasanya." "Kirimkan syarat pendaftarannya ke saya." "Hah? Pendaftaran apaan? Staf desain baru?" "Pendaftaran untuk menjadi laki-laki yang membiayai seluruh sisa hidup kamu." "Bang, kata anak-anak, Abang baru aja nolak Kak Dita ya? Padahal dia primadona kampus loh." "Itu bukan urusan kamu." "Lagian Abang nyari standar yang kayak gimana sih? Yang modelan bidadari turun dari kahyangan aja ditolak mentah-mentah." "Saya mencari yang berantakan, paling susah diatur, hobi begadang, dan selalu membantah ucapan saya..." "..." "Dan wangi tubuhnya seperti permen stroberi." Javas Mahesa (Jaja) mengira kutukan terburuknya sebagai mahasiswa DKV adalah urban legend hantu gantung diri di kosan lantai empatnya. Ternyata dia salah besar. Bencana aslinya justru berwujud Rendra Aditama, mahasiswa tingkat akhir Fakultas Hukum sekaligus koordinator divisinya yang kaku, galak, dan punya hobi meneror kanvas Figma milik Jaja dua belas jam sehari. Berawal dari keterpaksaan berburu sertifikat kelulusan, Jaja pikir penderitaannya di bawah kekuasaan kursor biru itu hanya sebatas nasib staf bawahan yang tertindas. Namun, dengan semua rentetan revisi tanpa ampun, kating hukum itu rupanya menyimpan agenda lain. Rendra tidak hanya berniat mendominasi kanvas desain Jaja, tapi juga seluruh perhatian, waktu, dan detak jantung mahasiswa baru yang selalu membuatnya pusing itu. Selamat datang di pusaran Nawasena Project. Tempat di mana revisi desain tidak pernah selesai, dan sikap posesif ugal-ugalan bersemi secara paksa dari sebuah ruang kerja digital. [Rank #1 - di #kampus 03/06/2026] [Rank #4 - di #bllokal 26/05/2026] [Rank #11 - di #boyslove 16/06/2026] Di-publish pertama kali pada Mei 2026.

More details
WpActionLinkContent Guidelines