
Keputusan meninggalkan Bali bukan sekadar mengemas barang, tapi merobek akar yang baru tumbuh. Dari hiruk-pikuk Denpasar, aku pulang membawa tas 90 liter berisi sisa harapan, menuju kota asalku yang selama ini kuhindari. Kota ini adalah gudang memori paling masif, tempat masa laluku yang kelam,narkoba dan kehancuran, dan tetap masih bersembunyi di balik lampu jalan yang remang.All Rights Reserved
1 part