Danuka Dan Septian (S2 JDL)

Danuka Dan Septian (S2 JDL)

  • WpView
    Reads 87
  • WpVote
    Votes 44
  • WpPart
    Parts 23
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jul 8, 2026
⚠️WAJIB FOLLOW SEBELUM MEMBACA⚠️ "Kamu mau ikut sama saya, Naura?" Linaura Danuka Tasya, sebuah mimpi buruk yang pernah terjadi di hidup nya harus nya sudah berakhir selama setahun itu. Tapi kisah masa lalu dari orang yang mirip dengan seseorang hadir kembali di hidup nya, luka lama yang hampir sembuh itu kembali tergores. Harta Cakraningrat Septian, laki-laki yang sangat mirip dengan Elang muncul di dalam hidup Naura. Entah itu mengobati luka lama, atau bahkan membantu gadis itu melupakan nama Elang. "Lo siapa? kenapa muka lo mirip banget sama Elang?"
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Nala dan Mas Juragan
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • The Villain's Mother
  • Chasing Sanara
  • The Last Yes!
  • Almost Married (END)
  • De Andere Weg (END)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • I Won't Be the Tragic Fiancée

Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines