Kaki jenjang itu kini mulai mendekat, satu langkah, dua langkah, tiga langkah dan... BRAKK!!
Kursi yang tidak bersalah itu menjadi menjadi sasaran kaki Aurora. Dengan jari-jarinya yang lentik, ia mengambil kaca yang berada di atas meja riasnya, lalu melemparkannya ke dinding berwarna hitam. Setelah itu, ia memutar tubuhnya menghadap cermin, tempat pantulan dirinya terlihat jelas
Balutan dress berwarna hitam ditubuhnya tidak membuatnya terlihat lebih anggun, justru tampak berantakan. riasan wajahnya kini luntur karena air mata yang jatuh. Rambut yang seharusnya tertata rapi pun berubah menjadi kusut.
Aurora benar-benar muak. Ia pikir dunia ini begitu luas, tetapi setelah dipikirkan kembali, dunia terasa seperti neraka yang mengurungnya dalam ketidakadilan.
"Why? Why does this world love to joke around so much? Fuck..."
"Sampai sekarang gua belum bisa lupa wajah pucat terakhir lo. Lo minta dibebaskan bukan? Sekarang lo bebas tanpa si tua bangka itu, dan gua lebih suka lo tidur dengan muka pucat lo itu."
"Welcome to hell papa."
"Gua lebih suka mandi darah lo, jadi gimana, mau menyumbang?"
All Rights Reserved