Langit yang mengepungmu

Langit yang mengepungmu

  • WpView
    Reads 19
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Mar 26, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
Bagi Nur Alara Ghassani, hidup adalah tentang gelas-gelas kaca yang berisi cairan pahit, kepalan tinju yang membuat lawan tumbang, dan tumpukan uang dari hasil memalak. Dia tidak butuh Tuhan, apalagi dinding pesantren yang terasa seperti penjara. Namun, malam itu Alara salah memilih lawan. Dia melompati tembok tinggi pesantren untuk kabur, namun justru terjebak dalam kepungan doa yang tak pernah ia sangka. "Lompatlah, Alara. Tapi sejauh apa pun kamu lari, kamu tidak akan pernah bisa sembunyi dari doa yang setiap malam mengepungmu ke langit." (Gus Husein al-Fatih) Itu suara Gus Husein al-Fatih. Sosok yang tetap bersujud saat Alara memakinya. Sosok yang tetap memohonkan ampunan saat Alara mencuri hartanya. Di tengah pertentangan Umi yang mengharamkan kehadiran "si pendosa", dan bayang-bayang masa lalu yang datang menagih nyawa, Alara harus memilih: Terus berlari hingga jatuh, atau berhenti dan bersujud di samping Husein yang tak pernah mundur memperjuangkannya. "Sebab di sepertiga malam, namamu sudah dicuri oleh penghuni langit."(Gus Husein al-Fatih)
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • EVANESCENT (HIATUS)
  • Transmigrasi Ziora
  • GRAVARENZO
  • GHAIKA (REVISI)
  • Blueprint Pelarian Villain [END]
  • I'm Not Just a Figuran
  • The Time
  • Tsundere Maniak Susu
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

More details
WpActionLinkContent Guidelines