"Karena pada akhirnya, sejauh apa pun kereta melaju, ia akan selalu punya satu stasiun untuk pulang."
Wonosobo selalu punya cara untuk membuat Lala merasa nyaman dengan kabutnya. Namun, keputusan untuk merantau ke Malang demi gelar sarjana, memaksanya harus berhadapan dengan ketakutan terbesarnya: ketinggian dan merasa sendirian.
Di tengah riuhnya Stasiun Malang dan dinginnya udara Kota Batu, Lala bertemu dengan Shaka. Seorang kakak tingkat jurusan Fotografi yang lebih banyak bicara lewat lensa kameranya daripada lisannya. Shaka itu tenang, Shaka itu teduh, dan Shaka adalah satu-satunya orang yang tidak tertawa saat tahu Lala gemetaran hanya karena melihat puncak Gunung Kelud dari kejauhan.
Bagi Shaka, Lala adalah objek foto paling rumit yang pernah ia temui. Sedangkan bagi Lala, Shaka adalah "stasiun" yang tidak pernah ia duga akan menjadi tempatnya menetap.
Dari obrolan di pinggir pantai hingga pegangan tangan di jalur pendakian, Shaka perlahan membuktikan satu hal: Bahwa puncak tertinggi bukanlah soal meter di atas permukaan laut, tapi tentang siapa yang menggenggam tanganmu saat kamu hampir terjatuh.
Akankah perjalanan ini berakhir di stasiun yang sama, atau hanya sekadar singgah sebelum kereta kembali melaju?
"Tentang maba Wonosobo yang takut ketinggian, dan kating Malang yang mengajarkannya bahwa jatuh cinta jauh lebih aman daripada jatuh dari gunung."
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang