SENYUMAN DI UJUNG PELURU

SENYUMAN DI UJUNG PELURU

  • WpView
    Reads 444
  • WpVote
    Votes 108
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Sep 9, 2026
WpInfo
Fiction
Action and Thriller
Crime
Assassin and Espionage
Varelly Kazuchi punya dua wajah. Satu untuk ayahnya: Anak gadis yang polos dan penyayang bunga. Satu untuk musuhnya: Iblis yang tahu di mana kunci neraka disembunyikan. Ketika klan mereka terancam oleh pengkhianatan internal, Varelly dan Ryuu memulai permainan catur berdarah yang tidak disadari oleh siapa pun-termasuk ayah mereka sendiri. "Jangan tertipu dengan tawanya. Karena saat dia tersenyum, itu artinya malaikat maut sudah berdiri di belakangmu."
Public Domain
#414
psychological
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Bukan Babysitter, Bung
  • THE DUCHESS OF LANCASTER : A Tale of Two Lives (END/COMPLETED)
  • GAIRAH MENANTU BERSERAGAM
  • Bukan Sembarang Figuran
  • AVISENA
  • NEALINE : Blood and Ice Cream
  • XAVIER : The Silent Guardian
  • Stuck Between The Pags
  • Jangan Halangi Pensiun Diniku, Mas Aktor! (Hiatus)

"Aku ingin kau menjaga putraku... dan teman-temannya." Naraska mengernyit. Kata-kata itu terasa janggal di telinganya. Di seberang meja kerja, Rajendra C. Lysander duduk tegak, menatapnya lurus sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di permukaan kayu. "Aku tahu ini terdengar aneh," suara Rajendra berat, sarat kelelahan. Di tangannya, selembar kertas bisnis terjepit tanpa benar-benar ia baca. "Tapi aku akan pergi selama tiga bulan untuk perjalanan bisnis. Jadi aku membutuhkan bantuanmu." Naraska menarik napas. "Aku tidak keberatan, Paman. Tapi... mengapa harus aku? Mereka sudah mahasiswa. Bukankah mereka bisa menjaga diri mereka sendiri?" Rajendra terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang. Tatapannya beralih ke luar jendela, seolah mencari jawaban pada langit senja di balik kaca. "Putraku dan teman-temannya telah tinggal di rumahku selama 5 bulan," ucapnya pelan. "Mereka tengah bersiap untuk mengikuti pertandingan Battle of the Bosses. Karena mereka meminta cuti, jadwal belajar mereka bersama pengajarnya semakin padat." Naraska menautkan alis. "Kalau begitu, mengapa aku perlu mengawasi mereka? Bukankah guru itu cukup?" Mata Rajendra kembali beralih padanya, kali ini tajam dan penuh arti. "Itulah," katanya singkat. "Yang ku ingin kau awasi"

More details
WpActionLinkContent Guidelines