OSCAR
  • WpView
    Reads 3,266
  • WpVote
    Votes 201
  • WpPart
    Parts 12
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jun 9, 2026
"Mencintai seorang pembunuh adalah dosa. Menjadikannya suamimu demi nyawa adalah maut yang tertunda." Aluna hanyalah gadis desa biasa, sampai malam terkutuk itu mengubah hidupnya. Di balik rimbunnya hutan Sukamaju, ia menyaksikan pemandangan yang tak seharusnya ia lihat: seorang pria berjubah hitam, Oscar, berdiri di tengah genangan darah dengan tatapan dingin seorang jagal. Namun takdir bermain gila. Sebuah kecelakaan membuat sang pembunuh jatuh ke jurang dan kehilangan ingatannya. Terjepit antara rasa takut akan dibunuh atau keinginan untuk selamat, Aluna melakukan sebuah kebohongan besar yang paling berbahaya dalam hidupnya. "Kau suamiku, Oscar. Kita sudah menikah lama." Kebohongan itu membawa Oscar ke dalam rumah kayu Aluna. Pria yang seharusnya menjadi maut bagi Aluna, kini justru menjadi pelindungnya. Namun, amnesia tidak bisa menghapus insting predator dalam tubuh Oscar. Di balik sikapnya yang lembut dan pemujaannya yang posesif kepada "istrinya", tangan Oscar tetaplah tangan seorang jagal yang mahir memainkan senjata. Situasi semakin memanas saat gairah Oscar tak lagi bisa dibendung. Ia menuntut haknya sebagai suami, menyeret Aluna ke dalam pusaran nafsu yang vulgar dan intim. Aluna terjebak dalam dilema yang menyiksa: ia harus menyerahkan kehormatannya pada pria yang identitas aslinya adalah monster, atau melihat rahasianya terbongkar dan nyawanya melayang. Setiap desahan adalah kebohongan. Setiap sentuhan adalah ancaman. Dan saat noda darah di seprei menjadi bukti yang membingungkan, Oscar mulai mempertanyakan kenyataan di balik pernikahan mereka. Sementara itu, di luar desa, Dante sosok dari masa lalu Oscar yang jauh lebih kejam mulai mengendus keberadaan adiknya. Bom waktu itu mulai berdetak. Apa yang akan dilakukan Oscar saat ingatannya kembali dan menyadari bahwa wanita yang dicintainya adalah orang yang menjebaknya dalam kebohongan? Dan mampukah Aluna bertahan saat sang monster benar-benar terbangun?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Marked by the Dragon
  • Si Cantik Milik Sang Raja
  • Kak, Tolong. END!
  • WILD OBSESSION
  • Tipuan Cinta Pria Lumpuh
  • Obsesi Mantan Suami
  • Biella's Diary
  • Venomous Obsession
  • 𝐇𝐈𝐒 𝐔𝐍𝐄𝐗𝐏𝐄𝐂𝐓𝐄𝐃, 𝙨𝙝𝙚𝙧𝙡𝙤𝙘𝙠 𝙝。
  • When the Giant Loves The Small

Bagi Evelyn, satu kesalahan kecil sudah cukup untuk menghancurkan hidupnya yang tenang. Saat ia tak sengaja menggeser rak buku di ruang kerja dan menyentuh pintu rahasia di baliknya, sebuah suara retakan misterius terdengar. Ketakutan akan hal itu, Evelyn melarikan diri dan menghilang selama seminggu, berharap semua itu hanya halusinasi. Namun, kembali ke kantor dengan surat pengunduran diri bukan berarti masalah selesai. Saat ia melangkah masuk dengan tangan gemetar, ia menemukan Damian Adhitama sedang berdiri di depan jendela besar. Pria itu, yang biasanya hanya peduli pada angka dan kekuasaan, kini menggendong seorang bayi laki-laki mungil yang sangat tampan. Begitu mata bayi itu bertemu dengan milik Evelyn, suasana kantor yang kaku seketika mencair. Bayi itu tertawa kecil, suara tawanya yang bening memenuhi ruangan, dan tangan mungilnya menggapai-gapai ke arah Evelyn. Dengan binar mata yang begitu tulus dan penuh kasih, si kecil itu menggumamkan satu kata yang membuat jantung Evelyn seolah berhenti berdetak, "Ma... ma!" Senyum bayi itu begitu manis dan hangat, hingga Evelyn tanpa sadar mendekat dan mendekapnya. Namun, di balik kehangatan itu, tatapan Damian mengunci dirinya dengan aura yang jauh lebih gelap. *** "Argh... Damian, ini sakit sekali," rintih Evelyn dengan napas yang memburu. Damian Adhitama tidak menunjukkan belas kasihan dalam bentuk kata-kata. Ia mendekat, melepaskan kancing kemeja Evelyn satu per satu dengan ketenangan yang mengerikan. "Itu karena kau melawannya, Evelyn. Kau menahan apa yang seharusnya menjadi milik anak itu." Tangan Damian yang besar dan hangat kini merangkum kelembutan yang sedang menegang dan terasa keras itu. Evelyn tersentak, mencoba menarik diri, namun tatapan Damian mengunci pergerakannya. "Diam. Kalau kau terus melawan, ini akan semakin sakit," perintah Damian dengan suara rendah yang menggetarkan saraf.

More details
WpActionLinkContent Guidelines