Langit sore itu berwarna kelabu, seolah ikut memahami perasaan Nara. Gadis berusia 19 tahun itu berdiri diam di depan jendela kamarnya, menatap jalanan yang mulai sepi.
Hari ini, hidupnya berubah.
"Aku tidak mau menikah, Bu..." suaranya pelan, hampir seperti bisikan yang tertelan oleh sunyi.
Ibunya hanya menunduk. Wajahnya lelah, matanya sembab. "Nara... ini satu-satunya cara."
Satu-satunya cara.
Kalimat itu terus terngiang di kepalanya. Semua karena hutang. Hutang yang bahkan tidak pernah ia tahu sebelumnya. Hutang yang kini menjerat masa depannya.
Pria itu... pria yang akan menjadi suaminya... bahkan belum pernah benar-benar ia kenal.
Namanya Arka.
Usianya 25 tahun. Dingin. Tegas. Dan menurut orang-orang, tidak mudah didekati.
"Nara, kamu harus kuat," ujar ayahnya dengan suara berat. "Keluarga kita bergantung pada ini."
Nara mengepalkan tangannya. Air matanya jatuh tanpa izin.
Kenapa harus aku?
---
Hari pernikahan itu datang terlalu cepat.
Gaun putih yang dikenakannya terasa berat. Bukan karena kainnya, tapi karena maknanya.
Ia duduk diam di ruang rias, menatap bayangannya di cermin. Cantik, kata orang. Tapi hatinya kosong.
Pintu terbuka perlahan.
Seorang pria masuk.
Langkahnya tenang, wajahnya datar.
Arka.
Untuk pertama kalinya, mereka berada dalam satu ruangan tanpa orang lain.
Nara menahan napas.
Arka menatapnya beberapa detik, lalu berkata singkat, "Kamu tidak perlu takut."
Kalimat itu sederhana, tapi entah kenapa membuat hati Nara sedikit bergetar.
Takut?
Tentu saja dia takut.
Tapi bukan hanya pada Arka.
Melainkan pada kehidupan yang tidak pernah ia pilih ini.
---
Malam itu, setelah semua selesai, Nara duduk di tepi ranjang. Masih dengan gaun yang sama, masih dengan perasaan yang sama.
Canggung. Bingung. Terjebak.
Arka berdiri di dekat jendela, membelakanginya.
"Aku tahu ini bukan keinginanmu," ucapnya tiba-tiba.
All Rights Reserved