Pelan-Pelan, Kita Ada

Pelan-Pelan, Kita Ada

  • WpView
    Reads 145
  • WpVote
    Votes 13
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Mar 26, 2026
Tidak semua perasaan datang dengan suara keras. Ada yang tumbuh pelan-pelan di antara tatapan singkat, kebetulan yang berulang, dan alasan-alasan kecil untuk kembali ke tempat yang sama. Jayna tidak pernah berniat mencari siapa pun. Ia sibuk dengan rutinitasnya, dengan kopi paginya, dengan kelas yang terus menunggu. Namun entah sejak kapan, ia mulai menunggu pagi dengan cara yang berbeda memperhatikan hal-hal kecil, senyum yang tidak sengaja, atau cara seseorang melihatnya seakan ingin mengerti tanpa kata-kata. Dan meski hatinya sering ragu, ia tetap sadar tidak semua yang terasa dekat akan benar-benar berada di sisinya. Tapi itu tidak membuatnya berhenti berharap. Hanya saja, harapannya kini lembut, diam, dan manusiawi-seperti dirinya sendiri.
All Rights Reserved
#34
ginjay
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • JEEVANA
  • [BL Transmigrasi] Male Concubine
  • I Want to Live [END]
  • Given || Ju Jihoon
  • NIGHT NOISES || Romance Horror [SEGERA TERBIT]
  • Secretary Or Mommy? || HIATUS
  • Love at Time's Brink [PROSES TERBIT]✔️
  • Second
  • KUASA DUNIAWI(Transmigrasi BL)
  • The King & The Doctor
JEEVANA

"Gue terpaksa nikah sama lo, demi bayi yang ada di perut lo." Kata-kata itu jatuh seperti pisau yang menancap tepat di hati Kiana Alisha. Pernikahan yang seharusnya menjadi momen bahagia, kini hanya terasa seperti hukuman. Ia tidak diinginkan. Bukan sebagai istri, bukan sebagai seseorang yang layak dicintai. Pria di hadapannya, sosok yang dingin dan kasar, menikahinya bukan karena cinta-hanya karena tanggung jawab, Tatapan matanya tajam, seolah berkata bahwa semua ini hanya sementara. Bahwa setelah bayi itu lahir, segalanya akan berakhir semuanya. Namun, takdir selalu punya cara untuk mempermainkan hati manusia. Dalam kebencian, mungkin terselip perasaan yang tak terduga?

More details
WpActionLinkContent Guidelines