HI RADEA : rumah untuk radea

HI RADEA : rumah untuk radea

  • WpView
    Reads 29
  • WpVote
    Votes 20
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Mar 30, 2026
Semua orang bilang, rumah adalah tempat untuk pulang. Tapi bagaimana jika tempat itu justru menjadi alasan seseorang ingin pergi? Radea tumbuh sebagai anak tunggal di rumah yang terlihat sempurna dari luar-atap yang kokoh, dinding yang utuh, dan kehidupan yang tampak baik-baik saja. Namun di balik itu semua, tidak ada kehangatan, tidak ada tawa, dan tidak ada tempat untuk bercerita. Hanya ada tuntutan. Hanya ada diam. Dan perasaan... yang perlahan menghilang. Setiap hari, Radea belajar untuk terlihat baik-baik saja. Menjawab seadanya. Menyembunyikan luka. Hingga akhirnya, ia mulai bertanya- Apa arti rumah, jika di dalamnya aku merasa sendirian? Semua berubah ketika seseorang datang dan menawarkan sesuatu yang belum pernah Radea rasakan sebelumnya: didengar. Namun, membuka diri berarti juga membuka luka yang selama ini ia sembunyikan. Dan tidak semua luka siap untuk disembuhkan. Ini bukan hanya tentang pulang. Ini tentang menemukan tempat... yang benar-benar bisa disebut rumah.
All Rights Reserved
#376
anaktunggal
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • GHAIKA (REVISI)
  • EVANESCENT (HIATUS)
  • The Time
  • Tsundere Maniak Susu
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • GRAVARENZO
  • I'm Not Just a Figuran
  • Blueprint Pelarian Villain
  • Transmigrasi Ziora

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

More details
WpActionLinkContent Guidelines