Dhe....Kita Yang Belum Selesai
Setelah kepergian Aksara, hidup Dhe tak lagi sama. Namun, kematian tidak benar-benar memutus segalanya.
Sebuah komunikasi yang tak masuk akal... tapi terlalu nyata untuk diabaikan.
Dhe pun memilih satu hal: menyelesaikan semua yang pernah mereka mulai bersama. Satu per satu janji, satu per satu mimpi, dan satu per satu luka.
Novel yang pernah ditinggalkan setengah jalan itu kini telah selesai, menjelma menjadi kisah yang tidak hanya dibaca, tetapi dirasakan. Ia hidup di dada jutaan pembaca, mengoyak luka yang bahkan tidak mereka sadari mereka miliki. Novel itu menjadi best seller. Filmnya tayang di layar lebar, mengundang tangis di setiap kursi bioskop.
Namun bagi Dhe, semua pencapaian itu tidak pernah benar-benar terasa utuh.
Ia menepati semua amanat Vara. Ia merawat setiap mimpi yang pernah mereka bangun, seolah Aksara masih berdiri di sampingnya.
Namun ada satu hal yang tidak pernah berhasil ia tuntaskan :
kehilangan......
Di balik gemuruh tepuk tangan, Dhe masih terjebak dalam sunyi. Dalam rindu yang tidak pernah menemukan tempat pulang. Dalam penyesalan yang datang terlambat.
Hingga suatu malam, sesuatu yang tak pernah bisa dijelaskan kembali terjadi.
Sebuah pesan. Sebuah mimpi. Sebuah kehadiran yang tidak seharusnya ada.
Aksara belum benar-benar pergi.
Dan kali ini, ia membawa sebuah kebenaran yang selama ini terkubur.
Kecelakaan yang merenggut nyawanya... bukanlah sekadar takdir.
Bukan pula kesalahan sopir bus yang kini harus membayar dengan kebebasannya. Ada sesuatu yang lain.
Sebuah mobil hitam yang membuntuti.
Sebuah bayangan yang sengaja dihapus dari kenyataan.
Sebuah rahasia... yang meminta untuk diungkap.
Kini, Dhe dihadapkan pada pilihan yang lebih berat dari sekadar merelakan :
menghadapi kebenaran.
Di antara cinta yang belum selesai dan keadilan yang belum ditegakkan, Dhe harus melangkah-meski hatinya masih tertinggal di masa lalu.
Karena kali ini, ini bukan hanya tentang kehilangan. Ini tentang menuntaskan sesuatu yang belum sempat diperjuangkan.