Rama Aditya adalah sebuah anomali. Tampan dan jenius, namun menyandang reputasi sebagai cowok "gampangan" yang tak pernah menolak gadis mana pun. Baginya, mengatakan "iya" jauh lebih mudah daripada menghadapi drama penolakan yang melelahkan.
Namun di balik wajah dinginnya, Rama menyimpan luka yang membusuk. Ia adalah bayangan yang dibuang, tumbuh besar dengan amarah yang membeku. Baginya, dunia sudah kiamat sejak lama.
Ketenangan gelap itu terusik saat ia dipaksa menjadi guru les bagi siswi paling bermasalah: Citra Syakila Putri.
Citra adalah segala hal yang Rama benci; berisik, pemberontak, dan terlalu banyak tertawa.
Namun, saat dunia menjauh karena sikap apatis Rama, Citra justru tetap di sana. Ia tidak menuntut Rama berubah; ia hanya ada, membungkus perhatiannya dengan kebawelan yang perlahan terasa hangat.
Rama mulai bernapas tanpa beban, merasa diterima bahkan dengan status "anak hasil pengkhianatan" yang menghantuinya. Kepingan hatinya mulai mencair, menyadari bahwa yang ia butuhkan bukan sekadar maaf dari masa lalu...
...melainkan ketulusan yang datang dari Cinta dari Citra.
***
"Lo jangan jatuh cinta sama gue ya. Ribet nanti."
"Gak akan," jawab Rama cepat.
"Yakin?"
"Yakin."
Citra menyeringai.
"Bagus. Soalnya gue males punya guru les yang tiba-tiba jadi posesif. Ntar tiap gue salah dikit lo bilang, 'kamu berubah ya sekarang?'"
Rama langsung menatap tajam. "Ngaco."
"Atau lebih parah-nilai gue jelek dikit lo bilang, 'kamu gak serius sama hubungan kita?'"
Rama refleks ingin menjitaknya.
Citra tertawa puas. "Tuh kan. Sensitif."
Rama menghela napas panjang.
***
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang