REFLEKSI : Menggapai Warna (v. 1)

REFLEKSI : Menggapai Warna (v. 1)

  • WpView
    Reads 1,564
  • WpVote
    Votes 491
  • WpPart
    Parts 19
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jul 26, 2026
Dunianya pernah berwarna. ‎ ‎Dipenuhi tawa, kebersamaan, dan seseorang yang menjadi segalanya. ‎ ‎Namun waktu memisahkan mereka, meninggalkan satu pihak untuk bertahan di dunia yang perlahan kehilangan makna. ‎ ‎Ia hanya ingin menjadi cukup- ‎cukup untuk dilihat, cukup untuk dibanggakan, ‎cukup untuk menggantikan seseorang yang tak pernah bisa ia lupakan. ‎ ‎Ia terus menggapai, ‎tanpa menyadari bahwa yang ia kejar telah lama hilang. ‎ ‎Dan mungkin, warna itu tak akan pernah kembali. cast : keonho as keivaro seonghyeon as seivaro juhoon as junoir martin as marsel james as semesta (bang esta)
All Rights Reserved
#645
teenfiction
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • DUNIA HAMPA
  • Everyday Life of an Only Child
  • LANGIT UNTUK BINTANG {END}
  • Blue Orbit
  • Radeya's Evanescence
  • The Gilded Cage
  • Struggle
  • 𝙄𝙣 𝘼𝙣𝙤𝙩𝙝𝙚𝙧 𝙇𝙞𝙛𝙚 || Cortis
  • Semesta Mika
  • Kyan's story

Hampa, kata itu menjadi hal yang ada di benaknya setiap kali ia pulang ke "rumah" miliknya. Tak ada niatan baginya, untuk sekedar membuat rumahnya lebih berwarna lagi. Dunianya terasa hampa, setiap kali ia ingin mengeluh. Ia kebingungan, mencari tempat untuk bersandar, dan bercerita tentang hari-harinya yang sulit. "Rumah" miliknya memang selalu berbeda, di sana sunyi. Di sana tidak terasa seperti ada kehidupan sedikit pun, hampa. Bahkan "rumah" yang dikatakan orang-orang sebagai tempat pulang itu, tak sama baginya. "Rumah" yang dianggap sebagai dunia kasih sayang bagi orang-orang, juga tak sama baginya. Semuanya bohong, semua tentang dirinya. Yang katanya menjadi kebanggaan bagi semua orang, tanpa ada kekurangan. Berjuta-juta lara tak pernah absen dari dirinya, seakan-akan seperti tidak ada detik tanpa kebohongan baginya. Sampai kapan, ia harus merasakan semua kesunyian ini? Kapan, kehampaan ini akan usai? Di mana, ia bisa mengekspresikan dirinya, selayaknya remaja pada umumnya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines