Katanya, semesta akan mempertemukan kita dengan orang-orang yang se-frekuensi dengan energi kita. Setidaknya, aku tidak percaya... Sampai aku bertemu tiga makhluk dari genus Homo, spesies sapiens. Tahta tertinggi dalam kingdom animalia. Bahasa kerennya: manusia.
Dan sialnya, aku satu spesies dengan mereka.
Kami berempat-aku, Joe, Bias, dan Danan-dipertemukan bukan karena takdir yang indah, tapi karena kerjaan yang sama-sama melelahkan. Beda divisi, beda kepala, beda cara mikir. Tapi entah sejak kapan, perbedaan itu malah jadi alasan buat selalu ketemu di kedai kopi ujung jalan sepulang kerja.
Awalnya cuma iseng. Lama-lama jadi kebiasaan.
Dan seperti kebanyakan laki-laki yang berkumpul tanpa tujuan jelas, obrolan kami berkembang liar. Dari nebak ukuran bra artis sampai rencana absurd membentuk geng F4 versi kantor. Tapi jangankan menyaingi vibes Dao Ming Shi dan kawan-kawan, jalan bareng kami lebih mirip kawanan Teletubbies salah universe yang tersesat di jam makan siang.
Anehnya, di antara tawa yang tidak penting dan obrolan yang sering tidak masuk akal itu, ada satu hal yang terasa ringan-beban hidup.
Seolah-olah, selama duduk di meja yang sama, semuanya bisa ditunda.
Sampai akhirnya kami sadar... Di balik tongkrongan yang terlihat receh itu, masing-masing dari kami sedang membawa sesuatu yang jauh lebih berat dari sekadar cerita lucu.
Ya, namanya juga hidup, harus bermasalah biar seru.
All Rights Reserved