Kaset Kusut (Coming Soon)

Kaset Kusut (Coming Soon)

  • WpView
    Reads 42
  • WpVote
    Votes 10
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jun 23, 2026
Hidup gue? Kata orang-orang... too good to be true. Keluarga, pasangan, masa depan, semuanya keliatan sempurna. Sampai suatu hari... semuanya berubah. Bukan pelan-pelan, tapi tiba-tiba. Pacaran beda agama? Semua orang udah tau endingnya. Nggak ada yang mau pindah. Tinggal nunggu waktu selesai atau dipaksa selesai. Tapi masalah terbesar kita bukan agama. Bukan juga restu orang tua. Tapi... gue. Dan dia. Latar belakang yang berubah dalam satu waktu. Pola didikan yang nggak pernah benar-benar sama. Ego. Komunikasi kita yang jelek, yang selalu bikin kita lupa buat jujur. Sampai akhirnya kita ngerti satu hal kadang, perbedaan itu bukan buat disatuin, tapi buat saling nyakitin. Jadi sekarang gue tanya... lo mau jadi gue? Atau sekarang lagi ada di posisi gue.
All Rights Reserved
#4
bedaagama
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain Mother
  • The Last Yes!
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Chasing Sanara
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • De Andere Weg (END)
  • Almost Married (END)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • Nala dan Mas Juragan

HAPPY READING ❤️‍🔥 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines