Sisa Melodi

Sisa Melodi

  • WpView
    Reads 6
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Mar 29, 2026
Bagi Gabriel, piano adalah tentang ketepatan. Namun, saat Nada mulai mengalunkan melodi yang terasa syahdu, harmoni yang tercipta terasa jauh lebih dari sekadar deretan notasi. Nada-begitu ia memanggil kakak tingkatnya itu-adalah melodi yang selalu ingin Gabriel jaga. Di sela riuhnya kantin, di bawah lampu merkuri parkiran motor saat hujan sore Surabaya, hingga langkah kaki mereka di sepanjang Jalan Tunjungan, Gabriel yakin bahwa mereka adalah satu komposisi yang utuh. Ia adalah fondasi, dan Nada adalah jiwanya. Namun, bagi Nada, realita tidak sesederhana itu. Di balik senyum lembutnya saat mereka berlatih, ada tembok transparan yang terus meninggi. Sebuah perbedaan iman yang membuatnya sadar bahwa meski mereka bisa berbagi panggung yang sama, doa mereka terbang ke langit-langit yang berbeda. Frienzone atau pacaran? Entahlah, apa yang bisa diharapkan dari partitur yang sejak awal memang sudah ditulis berbeda? Ataukah mereka hanya sekadar intermezzo indah yang ditakdirkan menjadi sisa melodi di langit-langit kampus?
All Rights Reserved
#83
bedaagama
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Hello Mr. Komrad
  • Prahara Lamaran [END]
  • Kembang Desa
  • A dan Z
  • Stand by Me
  • I'm the male lead's wife?
  • Terpaksa Dinikahi Duda Anak Dua
  • NANGGALA

Cerita ini ada di paijo juga. --- Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines