Kibo berusia delapan belas tahun ketika dunia memaksanya untuk tidak lagi menjadi anak-anak. Tumbuh di panti asuhan membuatnya terbiasa hidup dengan sisa-sisa perhatian, sisa kasih sayang, sisa kesempatan. Wajahnya yang terlalu lembut dan tubuhnya yang kecil sering menjadikannya bahan ejekan. Ia dianggap berbeda. Terlalu halus. Terlalu rapuh. Padahal yang ia inginkan hanya satu hal sederhana- tempat di mana ia tidak perlu merasa salah karena menjadi dirinya sendiri. Di sisi lain, Tuan Jay memiliki segalanya. Tiga puluh tahun. Pengusaha sukses. Dikelilingi kekuasaan dan kemewahan. Wanita-wanita mendekatinya tanpa perlu ia panggil. Hidupnya teratur, terkontrol, dan nyaris sempurna. Namun kesempurnaan tidak selalu berarti utuh. Pertemuan mereka seharusnya tidak lebih dari donatur dan penghuni panti asuhan. Sebuah bantuan. Sebuah formalitas. Tetapi ada sesuatu pada diri Kibo yang tidak meminta, tidak menuntut, dan tidak berpura-pura tertarik pada kekayaan Jay. Tatapan polos yang tidak dipenuhi ambisi itu justru menjadi celah yang tidak pernah Jay sadari sebelumnya.
More details