Arinda pikir ia tahu apa yang diinginkannya: cinta yang murni, bebas dari beban nama besar. Ia menyembunyikan satu hal dari suaminya-bahwa ayahnya adalah Hakim Agung Mahkamah Agung Republik Indonesia. Tapi apa yang tadinya ia anggap perlindungan, justru jadi celah yang dimanfaatkan. Dua tahun menikah dengan Hendrick Wirawan-pengacara ambisius yang piawai memutar kata-kata hukum-Arinda sudah terbiasa diabaikan, direndahkan, diperlakukan bukan sebagai istri, melainkan sebagai pelengkap citra. Malam Natal di Bekasi. Delapan tamu undangan. Satu kalkun yang dimasak sejak subuh oleh perempuan hamil tujuh bulan. Dan sebuah dorongan keras yang membuat Arinda jatuh ke lantai granit, darah mulai menggenang di bawah tubuhnya. Saat Hendrick masih menghitung kerugian reputasi alih-alih menelepon ambulans, Arinda melakukan satu hal sederhana yang belum pernah ia lakukan sebelumnya: Ia menelepon ayahnya. Dan di situlah segalanya berubah. -- "Kamu tahu hukum, Hendrick. Tapi kamu tidak tahu dari mana hukum itu datang." -- ⚠ Mengandung unsur kekerasan dalam rumah tangga, manipulasi psikologis, dan situasi darurat medis. Dibaca dengan bijak ya.
All Rights Reserved