Di suatu hari, hiduplah seorang remaja bernama Kioline Manuel Alaric. Ia bukan remaja yang menjalani hidup dengan mudah. Sejak kecil, kehidupannya dipenuhi dengan perbedaan perlakuan yang jelas di dalam keluarganya sendiri.
Kioline tinggal bersama ayah, ibu, dan seorang adik perempuan. Adiknya bernama Ribka Budiman Alaric. Ayahnya bernama Cornelia Vanisha Daniel Alaric, yang biasa dipanggil Daniel, sedangkan ibunya bernama Indah Cahya Nabila, atau Indah.
Di mata orang luar, keluarga itu terlihat biasa saja. Namun di dalam rumah, Kioline tumbuh dalam suasana yang jauh dari kata adil.
Sejak kecil, Kioline sudah terbiasa mengalah. Apapun yang diinginkan Ribka hampir selalu dipenuhi tanpa banyak pertimbangan. Bahkan ketika Ribka menginginkan barang milik Kioline, orang tuanya sering kali meminta Kioline untuk menyerahkannya.
"Kasihkan saja ke adikmu," adalah kalimat yang sangat sering ia dengar. Kalimat sederhana, tetapi perlahan mengikis rasa memiliki dalam dirinya sendiri.
Baju, sepatu, hingga barang-barang kesayangannya sering kali harus berpindah tangan ke Ribka. Kioline tidak pernah benar-benar memiliki ruang untuk berkata "tidak".
Tidak hanya soal barang, perlakuan dalam keluarga itu pun sangat berbeda. Kepada Ribka, Daniel dan Indah bersikap lembut, penuh perhatian, dan selalu menuruti keinginannya. Namun kepada Kioline, mereka cenderung dingin, keras, dan sering kali bersikap kasar tanpa alasan yang jelas.
Kioline tumbuh dalam lingkungan yang membuatnya terbiasa diam. Ia belajar untuk tidak banyak meminta, tidak banyak berbicara, dan tidak berharap terlalu tinggi pada rumahnya sendiri.
Karena setiap harapan di rumah itu sering berakhir dengan kekecewaan.
Seiring waktu, rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman justru terasa seperti tempat yang menekan dirinya sendiri. Kioline mulai memahami bahwa ia tidak pernah benar-benar menjadi prioritas di dalam keluarganya.
Saat ia memasuki suatu asrama, disanalah ia menemukan rumah keduanya.
All Rights Reserved