WILDFLOWER (Suara Keadilan)

WILDFLOWER (Suara Keadilan)

  • WpView
    Reads 694
  • WpVote
    Votes 117
  • WpPart
    Parts 27
WpMetadataReadComplete Thu, Jul 23, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
First Love
Suspense
Second Chance
[JUARA II DALAM EVENT DREAMS BEHIND THE DORM WITH CUPID DREAM PUBLISHING] Tiap paginya, matahari mungkin bersinar menerangi seluruh sudut kehidupan sebagaimana mestinya, sebagaimana seharusnya. Namun, dari balik jendela asrama itu, segalanya terjadi dengan tak wajar. Ketidakadilan dipelihara tumbuh liar, sementara luka-luka yang tercipta terus menganga tanpa dibiarkan mengering. Dari serpihan lukanya, lahirlah Wildflower. Kaluna dengan ambisinya memberikan wadah dan rumah yang aman bagi mereka yang tak pernah diberikan suaranya. Meski, tiap harinya, matahari enggan bersinar menerangi jalannya. Ini bukan sekadar tentang hukum yang habis terinjak masa, dipatahkan ego, dikalahkan kekuasaan, tetapi juga tentang sang Dewi Yustisia menemukan cintanya di sela sempit hidupnya. 🩺⚖️🩺⚖️ #DreamsBehindTheDorm #CupidDreamPublishing
All Rights Reserved
#7
dreamsbehindthedorm
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Mulih (END)
  • Cold Hearted (Completed)
  •  Triage Of Life
  • Blurred Lines
  • Under The Kitchen Table [COMPLETE]
  • Penghujung Temu
  • Menolak Asmara
  • Unconditional Love [Completed]
  • How could it be?
  • Act, Write, Love! (End)

GPH Giandra Abisatya Soetjipto, penerus adipati Danadyaksa, tahu bahwa jalan hidupnya sudah ditentukan jauh sebelum ia sempat memilih. Yang tidak ada dalam ekspektasi Gian adalah bertemu dengan Aurea Danika, seorang Senior Consultant dari Jakarta yang sedang rekreasi bersama teman-teman kantornya ke Pura Danadyaksa dan tiba-tiba masuk ke perpustakaan milik pura yang seharusnya tidak terbuka untuk umum. "Dan aku dengan enaknya manggil kamu Gian gitu aja? Aku bakal kena hukum adat kah, Gi? Eh, Gusti?" "Santai aja, Re. Temen-temenku juga udah tau aku siapa tapi masih manggilnya Gian, kadang Bro, kadang Nyet, kadang-serius, Re. Aman aja. Masyarakat Solo aja juga kadang manggilnya Mas, kok. Gapapa, ini bukan zaman kerajaan dulu." Dari perpustakaan tua ke Pasar Gede, dari malam-malam di ruang kerja hingga sarapan bersama keluarga yang tidak pernah mereka rencanakan, Rea dan Gian menemukan sesuatu yang tidak mereka cari. Tapi di balik tembok Pura Danadyaksa, ada kepentingan yang lebih besar dari perasaan dan harga yang harus dibayar untuk setiap pilihan yang dibuat. Mulih : Pulang, kembali ke rumah (Illustrations of Rea and Gian were drawn by @hi.buttery on Instagram)

More details
WpActionLinkContent Guidelines