"Gunakan aku. Jadikan aku satu-satunya tempatmu membuang amarahmu. Karena semakin sering kau melakukannya, semakin kau tidak akan bisa hidup tanpa kehadiranku di sini."
Sunoo menarik tangannya dengan kasar, seolah baru saja menyentuh api. Dia mundur beberapa langkah, napasnya memburu. Dia merasa seperti sedang berdiri di tepi jurang, dan Sunghoon adalah kegelapan di bawah sana yang sedang merentangkan tangan untuk menangkapnya.
"Kau gila," desis Sunoo.
"Mungkin," jawab Sunghoon datar sambil mengusap sisa susu di pipinya dengan punggung tangan. "Tapi kita berdua tahu, besok pagi kau akan datang lagi padaku. Kau butuh aku untuk merasa 'hidup', bukan?"
Sunghoon berdiri pelan, meski seragamnya kotor dan bau, dia berjalan melewati Sunoo dengan punggung tegap. Dia tidak menoleh. Dia membiarkan Sunoo berdiri mematung di tengah gudang yang gelap, sendirian dengan emosinya yang meluap-luap.
Di sana, di bawah lampu neon yang hampir mati, Sunoo menyadari satu hal yang paling mengerikan: Dia pikir dia sedang memegang ujung tali yang mengikat leher Sunghoon. Namun nyatanya, Sunghoon-lah yang baru saja mengikatkan tali itu ke leher Sunoo, dan Sunghoon membiarkan Sunoo sendiri yang memegang ujungnya-sebuah ilusi kendali yang akan menghancurkan Sunoo sampai ke akar-akarnya.
All Rights Reserved