A Place Called Home

A Place Called Home

  • WpView
    Reads 3,926
  • WpVote
    Votes 319
  • WpPart
    Parts 13
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jul 5, 2026
keceriaan mewarnai keluarga kecil mereka, walau banyak drama tak membuat mereka kehilangan kebahagiaan, senyuman manis dan tawa kedua anak manis mereka, dan drama anak sulung mereka yang tak ada habisnya..
All Rights Reserved
#8
ryulyul
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain's Mother
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Mas Iyan dan Cintanya - Ryulyul
  • Dear, Papa! | 𝒓𝒚𝒖𝒍𝒚𝒖𝒍
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • GIMMICK (RULNYUL)
  • Almost Married (END)
  • Rumah Tangga Ryulyul  |  Ryul Ohyul
  • Falling In Love With My EX Again?! || Ryulyul
  • Chasing Sanara
  • Tentang Cara Bertahan [Ryuyul]✅
  • Plester untuk Raven [RyuYul]
  • bodyguard love (ryulyul)
  • LOVERBOY [End]
  • Nala dan Mas Juragan
  • De Andere Weg (END)
  • The Last Yes!
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • Keluarga Kecil [lngshot]

Ngintip doang nih? 😗 🔞 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines