Beyond the Divide

Beyond the Divide

  • WpView
    Reads 0
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, May 9, 2026
Satu Tuhan, dua keyakinan. Kami mencintai langit yang sama, namun menyembah dengan cara yang berbeda. Di antara tasbihku dan salibmu, ada jarak yang tak pernah bisa bersatu, meski hati kami saling memanggil. Haruskah aku menyerah pada iman, atau berjuang melawan takdir yang mustahil? Sebuah kisah tentang mencintai dalam perbedaan, di mana jalan terbaik adalah melepaskan. Awalnya hanya benci karena perdebatan sepele, namun takdir membawa kami ke persimpangan yang salah. Renayya dengan sujudnya, dan Marichel dengan doanya. Ketika cinta tidak lagi memandang latar belakang, keluarga dan tuhan menjadi penghalang terbesar. Apakah kami harus terus bersembunyi, atau memilih untuk melepaskan diri sebelum luka semakin dalam?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • R É G A L I S [REVISI]
  • Kesayangan Mas Juragan!
  • Where They All Look At
  • The Imperfect Señorita
  • Almost Married (END)
  • Hot girl
  • Kembang Desa
  • SECOND TASTE
  • NINGRUM

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines