"Di antara kabut Ranu Kumbolo, sebuah tatapan menyembuhkan luka galau. Di puncak Mahameru, tatapan yang sama itu tenggelam dalam kaldera hati. Satu gunung. Dua jiwa. Takdir yang sama-sama memeluk dan mencabik."
Kabut pagi masih menyelimuti Ranu Kumbolo saat Mahendra Putra Mahameru berdiri di tepi danau, napasnya membentuk uap putih di udara edavi. Ia baru saja menaklukkan Tanjakan Cinta untuk kesekian kalinya, tapi hati tetap kosong. Seseorang yang dulu ia kejar di puncak ini, kini memilih pria lain. Mahameru memberi kemenangan fisik, tapi tak pernah menyembuhkan luka kaldera jiwa.
Tiba-tiba, kilasan senja terlintas di benaknya senja Mahameru yang merona jingga, hangat, memanggil. Putra menggeleng, mengira itu halusinasi pendaki. Tapi saat ia turun ke kampus dua minggu kemudian, senja itu hidup.
Di antara keramaian mahasiswa, Gea Arunika Oceana berdiri memesan kopi. Matanya. Ya Tuhan, matanya. Sepasang kaldera coklat keemasan, secantik senja Mahameru yang pernah ia sembah di puncak. Mata yang dalam, penuh rahasia, seolah berbisik, "Naiklah bersamaku."
Putra terpaku. Tanjakan Cinta baru saja memanggil lagi. Kali ini, bukan solo. Mahameru tak hanya menyatukan Langkah ia menyatukan hati. Gea melambat, merasakan tatapan itu. Senyum tipis muncul di bibirnya. Putra terpaku. Di kampus yang biasa ini, Mahameru baru saja memanggil. Menyatukan dua jiwa asing melalui satu tatapan. Untuk naik bersama ke puncak bahagia...
...dan jatuh bersama ke kaldera luka.
All Rights Reserved