Raina Adistya tumbuh di dalam keluarga yang lengkap-tetapi tidak pernah merasa utuh.
Ia ada di rumah, namun tidak pernah dianggap bagian dari rumah itu.
Di antara ayah yang dingin, ibu yang pilih kasih, dan dua saudara yang selalu meremehkan, Raina hanya menjadi bayangan: hadir, tapi tidak pernah dilihat.
Setiap hari ia mendengar kalimat menyakitkan.
Setiap malam ia menelan rasa sendiri.
Dan setiap saat ia bertanya dalam hati: "Apa aku pernah benar-benar diinginkan di sini?"
Dunia luar menjadi tempat Raina bersembunyi.
Sekolah, perpustakaan, lapangan basket-semua menjadi tempat ia bernapas. Hingga suatu hari, rasa sesak yang ia pendam selama bertahun-tahun mencapai titik puncaknya. Raina menyadari bahwa menunggu keluarganya berubah hanyalah mimpi kosong.
Dalam proses mencari tempatnya di dunia, Raina bertemu seseorang yang perlahan meruntuhkan tembok dinginnya.
Seseorang yang sama dinginnya, sama sendirinya, tapi mampu memahami bahasanya yang tanpa suara.
Pertemuan itu membuka jalan untuk menyembuhkan luka yang selama ini ia tutup rapat.
Namun ketika rahasia keluarga terbongkar dan ketegangan di rumah memuncak, Raina dipaksa memilih:
bertahan di rumah yang mengabaikannya,
atau pergi mencari "rumah" yang akhirnya memanggil namanya.
"Rumah Tanpa Tempat" adalah kisah tentang luka yang diwariskan, keberanian untuk melepaskan, dan perjalanan menemukan keluarga yang dipilih bukan keluarga yang memaksa.
All Rights Reserved