Pawang Hantu Om Aktor

Pawang Hantu Om Aktor

  • WpView
    Reads 824,054
  • WpVote
    Votes 62,586
  • WpPart
    Parts 43
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jul 13, 2026
"Saya bayar kamu seratus juta per bulan. Syaratnya cuma satu: jangan pernah lepas tangan saya tiap kali hantu sialan itu datang." Bagi Kanaya (22), pejuang skripsi yang sedang bokek parah dan kabur dari perjodohan klenik keluarganya, tawaran itu adalah jackpot. Bagi Arlan Dewantara (33), megabintang paling angkuh se-Asia Tenggara, sentuhan Naya adalah satu-satunya hal yang membuatnya tidak gila akibat diteror hantu masa lalunya sendiri. Demi menutupi kewarasan Arlan yang di ujung tanduk, sebuah kontrak Double Cover disepakati. Di depan media, Naya adalah asisten pribadi Arlan agar punya alasan logis tinggal satu penthouse. Di depan keluarga Naya, Arlan adalah pacar pura-puranya. Namun, saat genggaman tangan karena ketakutan itu perlahan berubah menjadi pelukan posesif di tengah malam... mampukah mereka bertahan hanya pada selembar kontrak bisnis semata?
All Rights Reserved
#2
fiksiumum
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain Mother
  • Nala dan Mas Juragan
  • De Andere Weg (END)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • The Last Yes!
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Chasing Sanara
  • Almost Married (END)

HAPPY READING ❤️‍🔥 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines