Unclaimed Blood

Unclaimed Blood

  • WpView
    Leituras 472
  • WpVote
    Votos 44
  • WpPart
    Capítulos 50
WpMetadataReadConcluída qua, jun 10, 2026
WpInfo
Ficção
Ação e Suspense
Aventura
Psicológico
Sobrevivência
Aldy dikenal sebagai siswa pintar dengan masa depan yang cerah. Tapi tidak ada yang tahu- bahwa di balik prestasinya, ia menyimpan sesuatu yang jauh lebih gelap. Ia tidak percaya pada cinta. Tidak percaya pada keluarga. Dan tidak pernah benar-benar peduli pada siapa pun. Sampai semuanya berubah... ketika hidupnya dipaksa berantakan. Dikeluarkan dari sekolah. Dibuang oleh ayahnya sendiri. Dan dipindahkan ke sebuah sekolah elit penuh kekuasaan- tempat di mana nama "Assegaf" berarti segalanya. Di sana, Aldy harus berhadapan dengan: orang-orang yang lebih berbahaya dari yang ia kira, rahasia keluarga yang perlahan terungkap, dan seseorang... yang mulai melihat sisi dirinya yang paling gelap. Namun yang paling berbahaya- bukanlah musuh-musuhnya. Melainkan dirinya sendiri. Karena di dalam diri Aldy... ada seseorang lain yang perlahan mengambil alih. Dan ketika itu terjadi- tidak ada yang bisa menghentikannya. Slow update, but worth the wait. ✨
Todos os Direitos Reservados
#127
richfamily
WpChevronRight
Junte-se a maior comunidade de histórias do mundoTenha recomendações personalizadas, guarde as suas histórias favoritas na sua biblioteca e comente e vote para expandir a sua comunidade.
Illustration

Talvez você também goste

  • Monsters Under The Bed
  • Thank You
  • Sattva [On Going]
  • DOPAMINE [HIATUS]
  • ZIONEL
  • Who's Crazy
  • Fight In The Box
  • SISA LUKA DI KOTA BANDUNG(ON GOING)
  • stranger's house [season 1]
  • Rio: Taring Warisan | Aksi dan Petualangan | Novel

"Apa lo pernah merasa diawasi?"Suara itu pelan. Hampir seperti bisikan yang lahir dari dinding kamar. Evan terdiam di ambang pintu apartemennya sendiri. Kunci masih menggantung di tangannya. Ia menoleh ke belakang, ke lorong yang kosong dan remang. Tidak ada siapa-siapa. Di dalam kamar yang gelap, di ruang yang terlalu sunyi, seseorang sudah lebih dulu berada di sana. Elara menahan napas di bawah ranjang, tubuhnya menyatu dengan bayangan. Debu menempel di ujung jari dan lututnya, tapi ia tidak peduli. Ia bisa mendengar suara langkah Evan, berat dan lelah, bergerak mendekat. Ia selalu menyukai suara itu, ritme yang sudah ia hafal selama sembilan tahun. Kasur berderit pelan ketika Evan merebahkan tubuhnya. Beberapa menit kemudian, napasnya berubah menjadi lebih dalam, lebih berat, dan tak lama tertidur lelap. Elara tersenyum dalam gelap. Ia merangkak keluar perlahan, berdiri di samping ranjang. Matanya menatap wajah pria berusia dua puluh tujuh tahun itu dengan tatapan yang sulit dijelaskan, terlalu lembut untuk disebut benci, terlalu dingin untuk disebut cinta. Tangannya masuk ke saku celana. Kain itu sudah ia siapkan. "Aku cuma ingin kamu diam," bisiknya pelan, seolah Evan bisa mendengar. Gerakannya cepat. Kain basah yang berbau zat kimia menyengat itu menutup mulut Evan. Pria itu tersentak, matanya setengah terbuka dalam kebingungan. Tubuh Evan bergerak gelisah, tangannya mencoba meraih sesuatu, namun perlahan melemah. Nafasnya terputus-putus sebelum akhirnya jatuh tak berdaya. Tangannya membuka kancing baju Evan satu per satu. Bukan terburu-buru, bukan kacau, semuanya dilakukan dengan kontrol. Telapak tangannya mengusap dada pria itu, lalu turun hingga ke perutnya. Tiba-tiba, ia menekan kuat. Tubuh Evan bereaksi refleks meski tak sadar, bergelojak lemah karena rasa sakit yang tak bisa ia lawan. Elara tersenyum tipis. "Kamu tetap merespons aku... bahkan dikondisi seperti ini."

Mais detalhes
WpActionLinkDiretrizes de Conteúdo