If We Never Met [ONGOING]

If We Never Met [ONGOING]

  • WpView
    Reads 45
  • WpVote
    Votes 16
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Apr 11, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
Prolog Cahaya pagi menembus tirai. Darren mengerjapkan mata perlahan, kepalanya berat, tubuhnya terasa aneh-tidak seperti biasanya. Ia menghela napas, mencoba mengingat potongan malam yang kabur. Yang ia tahu, saat ia menoleh hanya ada satu orang di sana. Yaitu Ares, yang masih tertidur lelap. Darren mengambil rokok yang ada di nakas dan menyalakan ujung rokoknya dengan korek. Ia beranjak dari kasur, rokok di bibirnya terus ia isap, asap tipis mengiringi setiap hembusan napasnya. Tiba-tiba langkahnya terhenti saat suara Ares terdengar dari arah belakang. "Udah bangun?" suaranya santai, nyaris terdengar seperti biasa. "Gimana perasaan kamu?" Darren memejamkan mata sebentar, satu tangannya naik memijat pelipisnya. "Kepala gue sakit banget rasanya," jawabnya pelan, suaranya serak. "Bukannya yang harusnya sakit itu bagian bawahmu?" Ucap Ares sambil tersenyum penuh kemenangan. "HAH?"
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • President's Wife
  • The Cold Ceo's Hidden Heir ( END )
  • π‡πˆπ’ 𝐒𝐖𝐄𝐄𝐓𝐒𝐔𝐆𝐀𝐑
  • Kamu Hanya Milikku
  • Skyline Marriage
  • MORSE : POSSESSIVE EX
  • El and Jerganio (End)
  • Heyu : Second Gear
  • GUMI [Completed]

Dewandra telah memantapkan hati untuk tidak pernah menikah. Selama 25 tahun, ia mengabdikan hidup sebagai tentara setia demi melindungi negara. Hingga di usia 41 tahun, ia diangkat menjadi pemimpin tertinggi-menyandang status RI 1. Dua tahun menjabat pasca-lengsernya sang ayah yang merupakan Presiden ke-8, Dewandra tetap tak sedikit pun terusik oleh bayangan pernikahan. Namun, takdir rupanya punya rencana lain. Pada perayaan Kemerdekaan RI, 17 Agustus 2025, matanya tak sengaja menangkap sosok gadis berkebaya putih dengan kain batik merah. Rambutnya tergerai indah, dihiasi senyum manis yang menawan. Meski hanya tatapan sekilas, wajah itu seolah tertanam permanen dalam ingatannya. Gadis itu adalah Natasha Aira Van-dijk Chandramukhti-putri tunggal dari salah satu menteri di kabinetnya sendiri.

More details
WpActionLinkContent Guidelines