We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
MUSUH FAVORIT

MUSUH FAVORIT

  • WpView
    Reads 8,166
  • WpVote
    Votes 607
  • WpPart
    Parts 32
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, May 12, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
Kalau ada lomba "siapa paling nggak akur seantero sekolah", Rony dan Salma udah pasti juara 1. Tanpa saingan. Rony: manusia paling hemat bicara (kecuali kalau lagi nyindir Salma). Salma: manusia paling berisik (apalagi kalau lagi marahin Rony). Pertemuan mereka = bencana. Percakapan mereka = debat nasional. Tatapan mereka = kayak mau adu tinju... tapi versi kata-kata. "Lo bisa diem nggak sih?berisik banget!" "Itu telinga lo aja yang nggak terbiasa denger orang pinter ngomong." Semua orang capek. Tapi juga... terhibur. Aneh banget, dua orang yang katanya saling benci ini selalu ada di tempat yang sama, selalu ribut hal yang sama, dan... selalu kembali lagi satu sama lain. Padahal logikanya sederhana..... kalau benci → jauhin. Tapi ini? Benci → dicariin. Jadi sebenarnya... mereka ini musuh? atau cuma dua orang yang nggak tahu cara akur? Atau jangan-jangan... mereka sendiri juga nggak ngerti kenapa nggak bisa berhenti ribut?
All Rights Reserved
#36
idol12
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Nakula
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Kembang Desa
  • Prahara Lamaran [END]
  • Salah Status
  • Stand by Me (END+LENGKAP)

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines