FRIENDS WITH - GEONWOO

FRIENDS WITH - GEONWOO

  • WpView
    Reads 80
  • WpVote
    Votes 12
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Apr 5, 2026
WpInfo
Fanfic
"Jev, ke ruangan saya sebentar. Ada hal yang harus kamu cek." Suara Geonwoo terdengar datar di depan anggota tim yang lain, namun Jevana tahu ada kilat lain di balik tatapan sang Manajer. Geonwoo adalah pemegang kendali penuh. Ia karismatik, cerdas, namun tetap otoriter dan tidak pernah menerima penolakan. Jevana adalah salah satu anggota tim tersebut, sekaligus teman lama Geonwoo saat kuliah. Bukan sekadar teman lama-teman dengan batasan-batasan yang mereka abaikan. "Apa yang mesti gue cek?" tanya Jevana ketus saat hanya ada mereka berdua di dalam studio sampel yang sunyi. Geonwoo menyeringai tipis, jemarinya bergerak perlahan melonggarkan simpul dasinya hingga kerah kemejanya terbuka sedikit. "Lo yapping banget tadi di depan klien, Jev." Ia melangkah maju, memangkas jarak hingga punggung Jevana membentur dinding. "Sekarang, mending mulut lo dipakai buat hal lain yang lebih berguna... buat gue." Di depan publik, mereka adalah atasan dan bawahan yang profesional. Geonwoo adalah sosok yang dihormati dan disukai banyak orang. Namun di balik pintu yang terkunci, label 'teman' hanyalah cara untuk menutupi setiap aturan yang mereka langgar bersama.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • JEEVANA
  • Given || Ju Jihoon
  • [BL Transmigrasi] Male Concubine [✓]
  • KUASA DUNIAWI(Transmigrasi BL)
  • Love at Time's Brink [PROSES TERBIT]✔️
  • The King & The Doctor ✓
  • I Want to Live [END]
  • Second
  • Secretary Or Mommy? || HIATUS
  • NIGHT NOISES || 🌴🦌 [END]
JEEVANA

"Gue terpaksa nikah sama lo, demi bayi yang ada di perut lo." Kata-kata itu jatuh seperti pisau yang menancap tepat di hati Kiana Alisha. Pernikahan yang seharusnya menjadi momen bahagia, kini hanya terasa seperti hukuman. Ia tidak diinginkan. Bukan sebagai istri, bukan sebagai seseorang yang layak dicintai. Pria di hadapannya, sosok yang dingin dan kasar, menikahinya bukan karena cinta-hanya karena tanggung jawab, Tatapan matanya tajam, seolah berkata bahwa semua ini hanya sementara. Bahwa setelah bayi itu lahir, segalanya akan berakhir semuanya. Namun, takdir selalu punya cara untuk mempermainkan hati manusia. Dalam kebencian, mungkin terselip perasaan yang tak terduga?

More details
WpActionLinkContent Guidelines