Shadow Rose
prolog
SMA St. Valerian bukanlah tempat bagi mereka yang berhati lemah. Dibalik kemegahan arsitektur klasiknya, sekolah ini adalah "kandang" bagi para pemberontak. Jika sekolah lain membanggakan piala olimpiade sains, koridor St. Valerian lebih akrab dengan aroma asap rokok, deru motor, dan sisa-sisa memar di wajah para muridnya.
Di puncak rantai makanan sekolah ini, terdapat lima gadis yang kehadirannya mampu membungkam kebisingan kantin hanya dengan satu lirik mata: Cassandra Mirelle Aurelian, Celine Amara Winata, Bianca Larissa Adiputra, Mireya Talitha Crowe, dan pemimpin mereka Althea Aurélie Draven.
Althea adalah definisi dari kekacauan yang cantik. Dia berisik, nekat, dan memiliki temperamen yang sulit ditebak. Di St. Valerian, tidak ada yang berani melawan "Cegil" kecuali jika mereka bosan hidup.
Langkah sepatu boots Althea menggema di lobi sekolah. Ia baru saja kembali dari olimpiade-satu-satunya alasan mengapa pihak sekolah masih mempertahankannya meski rekam jejak kedisiplinannya merah total.
Dari kejauhan, enam pemuda berjalan masuk melintasi gerbang St. Valerian dengan aura dominasi yang pekat. Di barisan depan, memimpin dengan tatapan dingin dan rahang tegas, adalah Darius Alistair Valtor.
Darius bukan sekadar murid pindahan bagi Althea. Dia adalah tunangannya. Pria yang memilih pergi ke sekolah lain saat SMA demi mengejar Saskia Marveen-satu-satunya manusia yang paling Althea benci di dunia ini.
Darius berhenti tepat beberapa langkah di depan Althea. Mata mereka bertemu-satu dingin membeku, satu lagi berapi-api.
Di belakang Darius, anggota Black Veil lainnya-Victor, Caleb, Leonardo, Marco, dan Rafael menatap dengan seringai tipis, menyadari bahwa St. Valerian tidak akan pernah sama lagi setelah hari ini.
"Lama tidak jumpa, Althea," suara Darius rendah, hampir seperti ancaman.
Althea menyunggingkan senyum miring yang paling mematikan. "Sayang sekali, Darius. gue lebih suka lihat di berita kriminal daripada di depan gue sekarang."