Hujan yang Menjagamu Diam-Diam

Hujan yang Menjagamu Diam-Diam

  • WpView
    Reads 82
  • WpVote
    Votes 15
  • WpPart
    Parts 13
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jul 8, 2026
‧˚₊•┈┈┈┈୨SINOPSIS୧┈┈┈┈•‧₊˚⊹ Rendra dan Lara telah bersahabat sejak lama. Namun semuanya berubah saat Lara menyukai Dhika, ketua OSIS di sekolah mereka. Tanpa sadar, Rendra justru membantu hubungan mereka, meskipun harus menahan perasaannya sendiri. Di balik itu, setiap kali Rendra merasa tidak nyaman, hujan selalu turun tanpa alasan. Akankah Rendra tetap menjadi sahabat, atau memilih mengungkapkan perasaannya? Status: On-going Starts: 4 April 2026 Ends: - ▂ ▃ ▄ ▅ ▆ ▇ █ █ ▇ ▆ ▅ ▄ ▃ ▂▂ ▃ ▄ ▅ ▆ ▇ █ █ ▇ ▆ ▅ ▄ ▃ ▂ Notes: Cerita ini terinspirasi dari puisi berjudul "Hujan Bulan Juni" yang di buat oleh Sapardi Djoko Damono
All Rights Reserved
#49
friendzone
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Almost Married (END)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • Chasing Sanara
  • De Andere Weg (END)
  • Nala dan Mas Juragan
  • The Villain Mother
  • The Last Yes!

🔞⚠️Note: Cerita ini 21+ ya. Isinya untuk dewasa, mohon bijak dalam membaca. ****** Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines