We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
100 Hari Untuk FLORENZA

100 Hari Untuk FLORENZA

  • WpView
    Reads 48
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 25
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Aug 7, 2026
WpInfo
Fiction
Action and Thriller
Adventure
Survival
Monitor jantung berbunyi pelan. Gadis itu terbaring pucat, dengan perban di kepala. Dokter membuka hasil CT scan, lalu menarik napas panjang. "Pasien mengalami trauma kepala sedang akibat kecelakaan, dengan indikasi cedera pada lobus temporal dan frontal." Ia menoleh pada keluarga yang tersisa. "Kami juga menemukan gejala awal amnesia pascatrauma. Untuk sementara, ingatan jangka pendek dan sebagian memori emosionalnya terganggu." Perawat menyerahkan catatan tambahan. Dokter melanjutkan, kali ini dengan nada lebih serius: "Namun... ada sesuatu yang tidak biasa." Ia menunjuk hasil pemindaian otak. "Aktivitas di area yang berkaitan dengan memori dan emosi menunjukkan pola tidak stabil. Ini bisa mengarah pada gangguan disosiatif, terutama jika trauma psikologisnya sangat berat." Ruangan mendadak hening. "Dengan kata lain, bukan hanya tubuhnya yang terluka. Pikiran pasien kemungkinan mencoba 'melindungi diri' dengan cara memisahkan atau menekan ingatan traumatis." Seseorang bertanya dengan suara gemetar, "Apakah dia akan sembuh, Dok?" Dokter terdiam sejenak sebelum menjawab. "Secara fisik, peluangnya baik. Tapi untuk kondisi mentalnya... sulit diprediksi." Ia menutup map medis. "Dalam beberapa kasus langka, pasien bisa mengalami perubahan kepribadian, kehilangan ingatan secara berkala, atau bahkan membentuk identitas berbeda sebagai mekanisme pertahanan." Monitor jantung berbunyi stabil. Namun suasana ruangan terasa semakin berat. "Kami akan melakukan observasi ketat. Untuk saat ini, yang paling penting adalah-jangan memaksanya mengingat apa pun." Dokter menatap gadis itu sekali lagi. "Karena terkadang... apa yang dilupakan, justru adalah hal yang paling berusaha dilindungi oleh pikirannya."
All Rights Reserved
#81
karma
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Jangan Halangi Pensiun Diniku, Mas Aktor!
  • Cinta Yang Tumbuh Bersama
  • Stuck Between The Pags
  • Ervan Carolline
  • NEALINE : Blood and Ice Cream
  • Side Character Syndrome
  • Hello, Mr. Mafia!
  • AVISENA
  • The Last Antagonis
  • [TAMAT] Help, I'm a Zombie!

"Kenapa harus repot-repot jadi antagonis pembuat onar kalau kamu bisa jadi sosialita gabut yang kaya raya?" Terjebak masuk ke dalam novel sebagai Sherly Valerius adalah sebuah bencana. Dalam cerita aslinya, putri konglomerat egois ini berakhir tragis dan bangkrut karena terobsesi mengejar aktor sombong bernama Arkan Pratama, serta berakhir diusir dari dunia hiburan karena menindas pemeran utama wanita. Begitu mengambil alih tubuhnya, aku langsung mengambil keputusan tegas: Blokir Arkan, amankan aset, dan mari pensiun dini! Untuk apa mengemis cinta, jika aku punya kartu kredit tanpa batas dan status sebagai istri rahasia dari Christian Reynald-aktor papan atas atau kaisar film tertampan se-nasional yang rutin memberi nafkah tapi jarang pulang? Pernikahan bisnis kami berjalan sangat ideal: dia sibuk dengan dunianya, dan aku sibuk menguras uang untuk membeli hal-hal random yang fungsional. Berbekal kekayaan keluarga Valerius yang ugal-ugalan, aku memutuskan untuk hidup santai, menyalurkan hobi belanja yang absurd, dan menikmati status pernikahan yang super damai ini tanpa peduli plot aslinya lagi. Namun, keputusanku untuk lepas tangan dari alur novel justru memicu rentetan kejadian absurd. Di dunia ini, sekecil apa pun kelakuan ajaib yang kulakukan demi menjaga kedamaian hidup dan menghabiskan uang, justru perlahan memancing rasa penasaran dari suami dingin yang seharusnya mengabaikanku selamanya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines