"Kamu masih mengira ada bagian dari hidupmu yang tidak bisa kujangkau, Kinanti?"
"Pak Menteri!"
Radyaksa Jayengkara Duryudhana Wirakresna-Menteri Perindustrian, teknokrat muda paling cerdas, paling bersih, dan paling sulit disentuh di negeri ini-tidak pernah menggoda dengan cara biasa. Ia tidak perlu. Bahayanya lahir dari ketepatan yang terlalu intim: cara ia tahu Ambar belum makan, cara ia mengenali demam hanya dari nadi di pergelangan tangan, cara ia membaca lelah, takut, dan goyah bahkan sebelum Ambar sempat menamainya sendiri. Sedikit demi sedikit, ia tidak hanya masuk ke hidup Ambar. Ia masuk ke ruang-ruang yang paling tidak ingin dilihat orang lain.
Lalu hidup Ambar dihancurkan di depan umum.
Namanya naik ke berita. Wajahnya beredar. Reputasinya dikuliti hidup-hidup. Dalam satu ledakan skandal, seluruh masa depan yang ia bangun runtuh di tangan orang-orang yang bahkan tidak pernah benar-benar mengenalnya. Dan saat semua orang mundur, Radyaksa justru datang lebih dekat-membuka perlindungan yang terlalu rapi, terlalu aman, terlalu sempurna untuk dipercaya. Perlindungan yang pelan-pelan terasa seperti kandang. Sentuhan yang terlalu singkat tetapi tinggal terlalu lama di kulit. Perhatian yang tidak pernah terdengar seperti rayuan, tetapi jauh lebih sulit ditolak karena selalu datang tepat di titik di mana Ambar paling lemah.
Lalu muncul Radjaksa Jayengkara Dursasana Wirakresna.
Adik kembar Radyaksa itu hadir dengan wajah yang sama, tetapi cara yang berbeda untuk membuat seseorang menyerah. Ia lebih hangat, lebih hidup, lebih mudah membuat Ambar lupa untuk waspada. Bila Radyaksa terasa seperti besi dingin yang mengunci, Radjaksa terasa seperti tangan hangat yang menahan sebelum jatuh. Masalahnya, tangan hangat pun bisa berubah jadi jerat-terutama ketika di balik kepeduliannya, ada hasrat yang sama gelapnya untuk dipilih, diutamakan, dan dijadikan satu-satunya tempat pulang.
All Rights Reserved