Jiao Zhu Ying Yu

Jiao Zhu Ying Yu

  • WpView
    Reads 26
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Apr 7, 2026
Judul Asli : 娇珠映玉 Penulis : 雾矢翊 - Wu Shi Yi Chapter : 141 ========== Chu Yingyu meninggal tepat pada hari ulang tahunnya yang ke-20. Menoleh kembali pada paruh pertama hidupnya, ia dipaksa menggantikan adiknya untuk menikah, sebuah nasib yang tidak bisa ia kendalikan. Pria yang ia nikahi, meskipun seorang Pangeran yang mulia, adalah sosok yang pendiam, dingin, sombong, dan ternyata memiliki kekasih lain. Hubungan suami istri mereka sangat hambar, hingga akhirnya ia berakhir dengan kematian yang tragis. Saat membuka mata kembali, Chu Yingyu mendapati dirinya telah kembali ke tiga tahun yang lalu. Saat ini, ia belum dipaksa untuk menikah sebagai pengganti. Mengingat kehidupan sebelumnya di mana orang-orang mencibirnya tidak tahu malu karena merebut pernikahan adiknya-yang menyebabkan adiknya dan Pangeran Ketujuh kehilangan kesempatan-ia memutuskan untuk tidak lagi menjadi pengantin pengganti di kehidupan ini. Namun, titah pernikahan dari istana tetap datang, memintanya untuk menikah lagi dengan Pangeran Ketujuh. Pangeran Ketujuh, Lu Xuanyin, sejak lahir menderita gangguan bicara (gagap), yang membuatnya kehilangan kualifikasi untuk memperebutkan takhta Kekaisaran. Ketika istri yang sangat ia cintai tewas dibunuh, Lu Xuanyin merasa hidupnya tidak lagi berarti. Ia mulai menjadi gila, mengacaukan situasi politik, dan menebar badai hingga semua orang menjauhinya karena takut. Sampai akhirnya ia menyadari bahwa dirinya telah terlahir kembali, di saat istrinya masih hidup dengan baik... Bagus, mari terus menjadi gila! Suatu hari, Chu Yingyu bertengkar dengan Pangeran Ketujuh karena masalah 'kekasih gelap'. Melihat sang Pangeran yang begitu marah hingga bicaranya tiba-tiba menjadi sangat gagap, ia merasa bersalah dan segera meralat ucapannya. "Baik, baik, aku mengerti. Ternyata kekasihmu itu adalah aku. Jangan marah lagi, ya!" Pria itu menatapnya dengan sayu, mendengus pelan setelah beberapa saat, lalu menariknya ke dalam pelukan dan mendekapnya denga
All Rights Reserved
#29
putripalsu
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Nakula
  • Kembang Desa (Hiatus)
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Salah Status
  • Prahara Lamaran [END]
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Stand by Me (END+LENGKAP)

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines