A Time For Us

A Time For Us

  • WpView
    Reads 441
  • WpVote
    Votes 34
  • WpPart
    Parts 22
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, May 23, 2026
Bagi Freya, Hummingbird Inn seharusnya menjadi tempat pelarian. Sebuah pondok kayu hangat di tengah dinginnya Holden untuk melupakan segalanya. Namun, kedamaian itu hancur saat ia menyadari bahwa ia tidak sendirian. Adrian bukan sekadar pemilik penginapan. Ia adalah pria yang melihat kerapuhan Freya melalui tulisan esainya. Di bawah atap yang sama, di antara aroma kopi dan dinginnya angin bulan Juni, mereka terjebak dalam sebuah kontrak yang tak bisa dibatalkan. Dua puluh ribu dolar untuk pergi, atau tinggal dan menghadapi perasaan yang mulai bersemi di antara derit tangga kayu dan raket nyamuk elektrik.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • R É G A L I S [REVISI]
  • The Imperfect Señorita
  • SECOND TASTE
  • Hot girl
  • Almost Married (END)
  • Kembang Desa
  • Kesayangan Mas Juragan!
  • Where They All Look At [ END ]
  • NINGRUM

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines