Di desa pesisir Wringin Sari yang menghadap langsung ke samudra tanpa ujung, laut bukan sekadar batas daratan. Ia adalah entitas agung yang selalu mengembalikan sesuatu-atau seseorang-dengan cara yang berbeda. Raka baru tiga hari resmi diterima menjadi pawang muda di Sanggar Tirta Wening ketika rituat sakral Laku Sembah Raga menyeretnya masuk ke dalam pusaran kutukan masa lalu. Di atas lantai pendopo yang dingin, ia dipertemukan dengan Bagas Wiraatmaja, pemuda penari bertubuh tegap yang raganya dijadikan wadah bagi Darma Wisesa-roh penguasa laut selatan yang dingin dan mematikan. Saat ritual dimulai, segalanya berubah pekat. Darma Wisesa yang biasanya tak tersentuh, mendadak mengunci tatapannya hanya pada Raka. Mengenali, mencari, dan mengklaim raga sang pawang muda seolah mereka telah terikat sejak berabad-abad lalu. Di tengah teror kerasukan dan dentum gamelan monoton yang mengikat kesadaran, Raka terjebak dalam situationship yang membingungkan. Yang membuatnya tak bisa berpaling bukan lagi tentang entitas gaib laut selatan, melainkan kelelahan yang teramat manusiawi dan pelukan erat dari manusia bernama Bagas sendiri. Namun, batas raga itu kian mengikis. Dan Bagas telah memberi peringatan posesif: "Jangan pernah sekalipun lo panggil nama manusia gue di depan dia, Raka. Karena kalau lo terpikat sama dia... gue nggak yakin dia bakal mau melepaskan lo lagi."
More details