Malam Yang Tak Pernah Tuntas

Malam Yang Tak Pernah Tuntas

  • WpView
    LECTURES 18
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Chapitres 6
WpMetadataReadContenu pour adultesTerminé jeu., avr. 9, 2026
Gue nggak pernah nyangka bakal ketemu manusia ini lagi. Setelah semua yang gue dan dia lewatin.
Setelah semua yang udah kita hancurin. Terutama-setelah malam itu. Dulu, kita cuma dua manusia yang terlalu naif, terlalu nyaman, dan tanpa sadar...sudah terlalu jauh melangkah. Harusnya berhenti. Harusnya cukup. Tapi kita kebablasan. Sekarang, setelah bertahun-tahun-kenapa harus datang lagi, dengan kehidupannya yang baru, dengan satu kalimat yang bikin semuanya bubrah: "Gue mau nikah bulan depan." Anehnya, andai waktu bisa ngebawa kita sejauh apa pun, tapi nggak bakal pernah benar-benar ngilangin tentang satu hal: apa yang udah kita rasain malam itu... nggak pernah selesai. Satu pertanyaan penting: andai waktu berputar-apa kita bakal berhenti kali ini?
Attribution Creative Commons (CC)
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • Nala dan Mas Juragan
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • NINGRUM
  • Nakula
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Almost Married (On Going)
  • EKSKALASI
  • Kembang Desa
  • Dangerous Deal S1-S2 (on going)
  • Define the Relationship

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives de Contenu