Sekeping Hati yang Baru

Sekeping Hati yang Baru

  • WpView
    Reads 261
  • WpVote
    Votes 12
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jun 4, 2015
Dia disana, batinku berteriak ketika aku menyadari seseorang memasuki ruangan cafe. Aku melihatnya, seorang gadis yang menenteng tas di punggungnya dan mendekap beberapa buku di tangannya. Dia begitu cantik hari ini. Tanpa sadar mataku terus mengawasinya. Awalnya dia kebingungan karena entah mengapa sore ini keadaan cafe sangatlah ramai. Matanya terus mencari keberadaan tempat kosong di ruangan ini. Hingga tanpa kusadari dia telah menatapku. Alisnya terangkat dan senyum terkembang di bibir mungilnya
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Unpredictable Love
  • Terima Kasih, Rumah
  • WILLENA
  • Love Mistake
  • The Chaos After You [ COMPLETE ]
  • TRUST ME ( And I Trust You ) (END)
  • Oddly Coupley (Complete)
  • STRANGER
  • ROMANCE FROM HIGH SCHOOL
  • Takdirku dengan Cintamu 💕

WARNING: Beberapa chapter terdapat adegan dewasa. Harap lebih bijak dalam membaca. Lili, hanya seorang gadis sederhana yang manis dan pendiam, tidak memiliki riwayat pacaran. Meskipun begitu, ibu nya selalu menyuruhnya untuk segera mendapatkan kekasih. Namun Lili terlalu pemalu, dia sama sekali tidak memiliki keberanian untuk mendekati pria. Dan entah bagaimana, seorang pria mulai mengganggunya. ----------------------------------------- Rendra tertawa kecil, suaranya terdengar berat dan penuh godaan. "Jika kamu yang berinisiatif menciumku, aku akan pergi." Lili menggigit bibirnya, tangannya gemetar hebat. Matanya yang basah oleh air mata menatap Rendra dengan gugup dan takut. Hening sejenak. Napasnya tersengal ketika ia akhirnya mengumpulkan keberanian, mengangkat sedikit tubuhnya, lalu berjinjit untuk mengecup pipi pria itu. Namun, sebelum bibirnya sempat menyentuh kulitnya, Rendra sudah lebih dulu meraih tengkuknya, menariknya erat ke dalam dekapannya. Tanpa memberi kesempatan untuk mundur, ia menuntut lebih menyapu bibirnya dengan ciuman yang panas dan mendalam. Suara Rendra terdengar serak di antara napas yang memburu. "Bagaimana mungkin aku bisa melepaskanmu setelah dirimu sendiri yang memberikannya padaku, hm?" ---------------------------------------

More details
WpActionLinkContent Guidelines