TUBUHMU DALAM DENDAMKU
Rahang Sean mengeras, tangannya mengepal, serta raut wajah berubah menjadi muram. Tatapannya tidak bisa lepas dari wanita di hadapannya. Ia sangat membenci wanita itu, tetapi, ia tidak bisa memalingkan wajahnya . Wanita itu hanya menunduk. Entah itu suatu bentuk penghormatan atau sengaja menghindari tatapannya.
Rambutnya terikat rapi, seluruh tubuhnya tertutupi oleh pakaian yang sopan. Tubuhnya memancarkan aroma vanila yang abadi dalam ingatannya.
Wanita itu mendongak dan menatapnya. Jantung Sean berdegup kencang. Di saat bersamaan ia merasa marah karena wanita itu sudah berani menatap matanya.
Sean ingin merobek proposal di tangannya. Lalu melemparkannya pada wanita itu. Ia benar-benar muak.
"Ibu~" Seorang anak laki-laki mendekati wanita itu.
Wanita itu terlihat sedikit panik. "Ah, Naka, maafkan Ibu. Ibu sedang ada urusan pekerjaan. "
Mata besar Naka menatap ke arah Sean. Keduanya bertatapan selama beberapa detik.
"Oh, maafkan aku, Ibu. Maafkan saya, Tuan. " Naka membungkuk hormat pada Sean. Setelah itu ia pergi.
Sean mendecih dalam hati."Oh, kau sudah punya anak, ya? "
"Benar, penginapan ini adalah milik suaminya saya. Suami saya meninggal kemarin. Oleh karena itu saya menggantikannya di sini." Aginta menjawab selembut mungkin.
Alih-alih mengucapkan bela sungkawa, pria itu memilih tersenyum sinis. Sean bertanya di dalam hatinya. Di antara banyaknya manusia, kenapa ia dipertemukan kembali dengan Aginta, wanita yang pernah menjadi simpanan Ayahnya. Meskipun ia sukses menghancurkan kehidupan Aginta, ia merasa tidak puas. Wanita itu masih hidup tenang sampai saat ini, bahkan memiliki anak yang lucu.
Sementara itu Aginta dilanda ketakutan dalam diamnya. Pria di hadapannya saat ini sangat berbahaya. Hidupnya benar-benar hancur. Sean terus memberikan hukuman atas sesuatu yang belum jelas akar permasalahannya. Ia bahkan tidak pernah diberi kesempatan untuk menjelaskan apa yang terjadi.