Malam itu begitu sunyi, tanpa cahaya dan tanpa arah. Hanya suara angin yang berhembus kencang, disertai bising serangga malam yang saling bersahutan, mengisi kehampaan yang terasa semakin menekan.
Aku berjalan sendirian di tengah kegelapan, air mata terus mengalir tanpa henti, membasahi seluruh wajahku. Sakit hati, amarah dan kebencian.
Semua bercampur menjadi satu, memenuhi dadaku hingga terasa sesak, aku menatap lurus ke jalanan sepi di hadapanku. "Kenapa harus seperti ini" suaraku lirih, nyaris tak terdengar. "Kenapa Kau tega, Tuhan... mengambil satu-satunya kebahagiaanku"
Tangisku semakin pecah saat teringat ucapan Bibi Yasmin 'Karena dirimu, adik dan iparku mati kecelakaan! Kalau bukan karena kue ulang tahun sialan itu, hidupku tidak akan seperti ini'.
Setiap kata itu seperti pisau yang terus mengiris hatiku, langkahku terasa semakin berat. Dunia ini terasa terlalu kejam untukku.
Auuuuuuuu...
Suara lolongan serigala memecah malam, tubuhku langsung membeku. Bulu kudukku berdiri, tangisku terhenti seketika. Dengan panik, aku mulai berlari. Secepat yang kubisa, berharap menemukan sedikit cahaya dan harapan di ujung jalan sana.
Namun, Brak!
Sesuatu menabrakku dengan sangat keras. Tubuhku terpental hingga membentur batang pohon di pinggir jalan. "Ahh!" Rasa nyeri menjalar dari keningku. Hangat. Lengket. Aku menyentuhnya.
Darah.
Aku mencoba bangkit perlahan, napasku terengah. Lalu aku menoleh ke arah sesuatu yang menabrakku. Dan saat itu, duniaku seakan berhenti untuk ketiga kalinya.
Seekor serigala berdiri di hadapanku, bulu hitam pekat dengan mata emas yang menyala dalam gelap. Menatapku tajam, aku terbelalak.
"AAAAAA! TOLONG!!"
Teriakanku menggema, namun sia-sia. Dalam sekejap, serigala itu mendekat. Terlalu cepat dan kuat. Gigitan tajam terasa di leherku. Aku terkejut, tubuhku melemah dan Penglihatanku mulai gelap. Perlahan aku kehilangan kesadaran.
All Rights Reserved