"Katanya, satu tahun itu punya 31.536.000 detik. Tapi kenapa saat bersamamu, waktu rasanya hanya seperti satu kedipan mata?"
Bagi Arlan, hidup adalah tentang melindungi. Bagi Alana, hidup adalah tentang mengikuti jejak sang kakak. Namun, semesta punya cara yang kejam untuk menguji sebuah ikatan. Sebuah vonis medis jatuh seperti petir di siang bolong: Arlan hanya punya waktu 365 hari.
Alih-alih menyerah pada tangis, Alana menuliskan sebuah daftar. Sebuah daftar sederhana yang ia beri nama "365 Hari untuk Kakakku" :
Melihat matahari terbit dari atas bukit.
Makan mie instan di pukul dua pagi.
Kembali ke rumah tua kakek.
Menonton film sampai keduanya tertidur di sofa.
Alana ingin mencuri setiap detik yang tersisa. Namun, saat tubuh Arlan mulai melemah dan napasnya mulai memberat, Alana tersadar, ternyata ia tidak sedang berpacu dengan daftar itu, melainkan berpacu dengan takdir yang tak pernah bisa ia menangi.
Ini bukan hanya tentang kematian. Ini tentang bagaimana kita mencintai seseorang saat kita tahu kita akan kehilangan mereka.
All Rights Reserved