Goresan Terakhir

Goresan Terakhir

  • WpView
    Reads 278
  • WpVote
    Votes 44
  • WpPart
    Parts 44
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, May 24, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
College and University
Happy Ending
Slow Burn
Setiap orang memiliki masa lalu. Ada yang indah, ada pula yang menyisakan luka. Ada yang berakhir bahagia, ada pula yang tenggelam dalam penyesalan. Namun, masa lalu yang paling berkesan sering kali kembali hadir tanpa diminta, hanya karena satu hal kecil yang membangkitkan ingatan. Begitulah yang dirasakan Erize. Hanya sebuah dinding, tetapi dinding itu menyeretnya kembali pada kenangan lama. Masa ketika ia memiliki mimpi besar dan memutuskan meraihnya dengan menjadi mahasiswi Master of Art di kota Naha. Namun, siapa sangka tugas kuliah selama tiga bulan yang tak kunjung selesai, ditambah tatapan seseorang yang membuatnya sulit bernapas, justru mengubah segalanya. Di antara ambisi, perasaan, dan rahasia sebuah tradisi keluarga, Erize harus menghadapi kenyataan yang akan menentukan arti mimpinya sendiri.
All Rights Reserved
#54
seni
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Kembang Desa
  • Nakula
  • Salah Status [END]
  • Prahara Lamaran [END]
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Stand by Me (END+LENGKAP)

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines