"Iya kan, kak?! Sebego-begonya bang Reyhan , se enggak pekanya dia, Revano lebih bego dan gak peka, kak!"
Keyra hanya mengangguk sabar sambil membuka satu persatu ikatan karet warna-warni di rambut Arsenio.
Ulah Reyhan, pacarnya. Saat Arsenio kembali pulang dengan menangis jelek, Reyhan malah mengikat rambutnya dengan karet warna-warni itu, pengganti uang kembalian saat di warung tadi, katanya.
"Pantes aja betah mereka sahabatan dari orok! Sama gitu bentukannya!"
"Kamu juga masuk geng mereka, dek."
"Nah, itu kak! gunanya gue ada diantara mereka itu buat penetral! Kalo mereka lagi goblok gue yang turun tangan!"
Keyra mengangguk dengan sabar lagi.
Arsenio masih betah berceloteh ketika Reyhan datang dengan bingkisan di tangannya. Hasil pesen makanan online yang baru saja dia ambil dari depan.
Tak!
"Akh! Aw!" Pekik Arsenio saat dia dengan sengaja menghentakkan kepalanya keatas meja kaca.
"Bego," sahut Reyhan tanpa rasa kasihan.
Bibir Arsenio melekung ke bawah, dia merasa tidak bisa lagi menerima hal-hal yang memojokkan dirinya. Jadi Arsenio berdiri sambil mengelap hidung dengan lengan bajunya.
"Bodo, Abang juga bego! Arsen mau sendiri, mau ke kamar, mau move on!"
Katanya sambil berjalan menghentak-hentakkan kaki. Reyhan hanya menghela nafas melihat tingkah adik kesayangannya itu.
Sialan. Benar-benar sialan. Friendzone itu sialan!
Revano Senata juga sialan!
Masa selama hampir delapan belas tahun bersama Revano tidak merasakan apa-apa padanya?!
Itu curang! Semesta curang!
All Rights Reserved